Pasokan Gula Cukup, Pemerintah Tak Perlu Impor


Pertanianku – Ketua Dewan Pasokan Pimpinan Pusat APTRI Soemitro Samadikoen menyebutkan, gula Indonesia pada 2016 lalu dinilai memenuhi kebutuhan nasional hingga akhir 2017. Oleh karena itulah, para petani tebu yang tergabung dalam Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) meminta pemerintah untuk tak menambah kuota impor gula konsumsi.

Soemitro menjelaskan bahwa, produksi gula lokal pada 2016 mencapai 2,2 juta ton. Di tahun​ yang sama, pemerintah mengeluarkan izin impor sebanyak 1,4 juta ton. Artinya, ada 3,6 juta ton gula.

Sementara itu, berdasarkan hitungan APTRI, kebutuhan gula konsumsi nasional hanya 2,8 juta ton per tahun. Angka itu didapat dari asumsi rata-rata konsumsi gula per kapita, yakni 11 kilogram per tahun. Dengan demikian, ada sisa pasok gula di 2016 sebanyak 800.000 ton.

Pasalnya di awal 2017, Kemendag kembali mengeluarkan izin impor sebanyak 400.000 ton. Artinya, sisa pasok bertambah menjadi 1,2 juta ton gula.

Lebih lanjut Soemitro mengatakan, dalam waktu dekat ini kebun-kebun tebu di Indonesia akan memasuki masa panen. Ia memprediksi produksi gula tahun ini dapat mencapai 2,4 juta ton jika panen raya berhasil. Jika ditambah dengan sisa pasok yang sebanyak 1,2 juta ton, jumlah stok gula akan menjadi 3,6 juta ton. Artinya, Soemitro mengatakan, kebutuhan gula konsumsi nasional sudah aman. “Pemerintah tidak perlu lagi menambah impor,” ungkapnya seperti melansir Antaranews (12/4).

Soemitro menambahkan bahwa konsumsi gula tak sama dengan konsumsi daging. Kebutuhan gula bagi orang kaya dan miskin sama. Tak seperti daging yang lebih banyak dikonsumsi oleh masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke atas.

Bahkan, bisa dikatakan tingkat konsumsi gula orang kaya cenderung lebih sedikit. Ini karena tingkat kesadaran mereka akan pengendalian kadar gula dalam makanan lebih tinggi. Karenanya, Soemitro meyakini kebutuhan gula untuk konsumsi nasional tak akan bertambah signifikan dari tahun ke tahun.

Baca Juga:  Cara Pemupukan Padi Berimbang

Pasalnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyebut kebutuhan gula konsumsi pada 2017 mencapai 3,3 juta ton. Sementara, kapasitas produksi dalam negeri diperkirakan hanya 2,2 juta ton. Karenanya, untuk memenuhi kebutuhan gula nasional, pemerintah harus mendatangkan gula dari luar negeri. Namun, Enggar memastikan volume impor tidak akan lebih besar dari selisih kebutuhan gula yang tidak mampu dipenuhi produsen dalam negeri.