Pedagang Beras Pertanyakan Standar Mutu


Pertanianku – Belum lama ini sejumlah pedagang beras di Pasar Induk Cipinang, Jakarta Timur, mengeluhkan harga eceran tertinggi (HET) beras yang telah ditetapkan oleh pemerintah sulit diterapkan. Hal ini terjadi karena sulit menentukan standar beras tertentu masuk kategori premium atau medium di pasaran.

“Kami belum tahu yang diinginkan pemerintah seperti apa. Beras yang ada pada kami ‘kan nggak ada standarnya. Persentasenya berapa ‘kan kami nggak tahu,” kata pemilik PD Susi Jaya di Pasar Induk Cipinang, Suyono dilansir dari Republika (3/9).

Menurutnya ada beberapa jenis beras yang memiliki harga khusus, misalnya Pandan Wangi dan beras ketan. Pandan Wangi saat ini dijual lebih dari Rp13.000, sedangkan beras ketan ada di kisaran Rp16.500. Jika dijual dengan standar premium, petani masih mengalami kerugian per kilogramnya.

Suyono mengatakan, hingga saat ini, dampak penetapan HET beras belum terasa di kalangan para pedagang. Ketentuan itu diumumkan pada hari libur.

“Besok hari Senin kita lihat,” kata dia.

Ia menambahkan, saat ini beras medium jenis IR64 masih menjadi favorit para pembeli. Kualitasnya bermacam-macam dengan harga bervariasi.

Bahkan, ia mengaku masih menjual beras medium dengan harga Rp8.600—Rp9.500 per kilogram. Ada pula beras yang menurut dia kualitasnya di atas medium, tetapi masih di bawah premium. Ia mempertanyakan, masuk dalam kategori mana beras-beras seperti ini. Ia menjual produk tersebut seharga Rp9.500—Rp10.000.

Penentuan HET bukan solusi atas tingginya harga beras. Naik turunnya harga beras merupakan fenomena tahunan yang pasti terjadi. Hal itu lebih banyak disebabkan minimnya jumlah persediaan beras di pasar.

Memasuki September, bahkan stok beras mengalami penurunan. Hal ini berdampak pada naiknya harga beras.

Baca Juga:  Stok Pupuk Bersubsidi Dipastikan Aman

“Kalau tiap hari naik Rp100 kan lumayan kalau sebulan sudah berapa?” ujarnya.

Lebih lanjut Suyono mengatakan, pemerintah perlu mengantisipasi lonjakan harga beras yang signifikan. Caranya bisa dengan menggelontorkan beras subsidi agar pasokan terus terjaga.

“Tapi jangan beras subsidi yang untuk raskin. Itu sudah nggak layak makan kalau itu,” tuturnya.

loading...
loading...