Peluang Budidaya Ikan Bawal Air Tawar

PertaniankuBudidaya ikan bawal air tawar di kolam sudah berkembang sejak 1990-an. Budidaya ini sering kali dilakukan pada waduk dengan memakai keramba jaring apung. Akan tetapi, kini keramba jaring apung lebih sering digunakan untuk budidaya ikan mas dan nila sehingga pembudidaya beralih ke kolam.

 

budidaya ikan bawal
foto: Trubus

Pembesaran ikan bawal air tawar di keramba rentan terkena upwelling, yakni air di dasar waduk naik ke permukaan. Sisa pakan dan kotoran juga berpotensi meracuni ikan bawal. Oleh karena itu, media kolam menjadi solusi tepat untuk budidaya ikan konsumsi seperti bawal air tawar.

Permintaan ikan bawal lebih banyak diserap oleh restoran, rumah makan, dan warung. Beberapa warung makan mengaku kesulitan mendapatkan pasokan ikan bawal sehingga menu yang disajikan tidak banyak.

Sayangnya, harga jual ikan bawal masih belum bagus. Pembudidaya perlu mengatur rencana agar biaya produksi tidak begitu besar sehingga keuntungan yang didapat lebih maksimal. Salah satu strategi yang sering digunakan adalah mengganti pakan dengan limbah sayuran yang lebih mudah didapatkan. Bawal merupakan omnivora sehingga bisa diberikan sayuran.

Hal terpenting yang perlu diperhatikan pembudidaya adalah kandungan protein di dalam pakan. Pakan harus mengandung 40% protein hewani dan 60% nabati.

Selain menggunakan limbah sayuran, pembudidaya dapat membuat pelet sendiri dengan campuran 300 kg dedak, 100 kg kue atau roti sisa, 50 kg bungkil kelapa, dan 50 kg ampas tahu. Seluruh bahan tersebut dicampur oleh 200 kg telur gagal tetas, 100 kg keong mas, dan 100 kg bubuk ikan asin. Setelah itu, olahan pelet dijemur selama 203 hari lalu digiling dengan mesin penggiling daging.

Biaya produksi untuk menghasilkan pelet relatif lebih murah. Akan tetapi, sebenarnya harga bahan-bahan pelet dipengaruhi oleh banyak hal, salah satunya lokasi. Apabila bahan tersebut didapatkan dari lokasi yang cukup jauh, kemungkinan harganya menjadi lebih mahal.

Baca Juga:  Cara Merawat Benih Koi yang Benar

Pelet dapat disimpan selama 2–3 bulan dan diberikan sebanyak 2,5 persen dari bobot ikan/hari. Pakan pelet dapat membuat FCR ikan meningkat jadi 1:1.

Selain menjual ikan bawal berukuran konsumsi, pembudidaya juga bisa menjual dalam segmen benih karena permintaannya juga menggiurkan. Menurut pengalaman pembudidaya, harga bibit justru lebih stabil dan terjangkau.