Peluang Pasar Produk Organik Terbuka Lebar


Pertanianku — Berdasarkan temuan International Federation of Organic Agriculture Movesment (IFOAM), perniagaan produk organik dunia mencapai Rp1.143.45 triliun per tahun. Akan tetapi, pengamat ekonomi pertanian, Dr. Bayu Krisnamurthi mengungkapkan, perkiraan ekspor produk organik Indonesia baru sekitar Rp526 miliar per tahun.

produk organik
Foto: Pixabay

“Itu hanya perkiraan karena belum terdata secara resmi, mungkin nilainya bisa lebih besar,” ujar Bayu seperti dikutip dari Majalah Trubus.

Dapat disimpulkan bahwa kontribusi Indonesia dalam ekspor produk organik masih kecil. Padahal, menurut Bayu, potensi pasar produk organik sangat besar. Ia mencontohkan, harga beras organik yang dipasarkan Indonesia di Jerman Rp95 ribuper kilogram. Harga jual itu lebih tinggi dibanding harga rata-rata beras organik di pasar domestik yang hanya brkisar Rp20.000—Rp30.000 per kilogram.

Sementara itu, menurut Presiden IFOAM, Zhou Zejiang, permintaan produk organik di luar negeri cukup tinggi. Beberapa negara konsumen tertinggi produk organik di antaranya Amerika Serikat, Tiongkok, dan negara-negara di Eropa. Produk-produk utama yang digemari contohnya beras, kacang-kacangan, produk ternak, dan kopi.

“Termasuk bahan bumbu masakan, kain, dan kosmetik,” lanjut Zhou.

Ia menambahkan, jika ingin mengekspor produk organik, maka harus memiliki kualitas yang baik, terintegrasi, dan terjamin bahwa membudidayakannya secara organik. Produsen produk organik dituntut bekerja sama dengan badan sertifikasi dan eksportir/importir agar profesional.

Zhou juga mengatakan, Indonesia menempati posisi ke-15 secara luasan dan nomor 4 dari populasi dunia sebagai produsen organik. Hanya saja, kelebihan Indonesia, yakni bisa panen 2—3 kali dalam setahun karena berada di garis ekuator. Kendalanya, Indonesia memerlukan teknologi agar bisa memproduksi produk yang benar-benar organik disusul dengan adanya pasar.

Kuncinya, lanjut Zhou, yaitu dengan korporasi dan pertukaran informasi. “Saya harap Indonesia bisa memberikan lebih dan proaktif untuk bergabung di IFOAM Asia. Kemudian bisa saling belajar satu sama lain. Informasi permintaan pasar pun bisa diketahui bersama. Aktiflah dan Anda akan mendapat manfat,” paparnya.

Baca Juga:  Asal Petani Pertama Asia Tenggara Diketahui dari Jejak DNA

Sementara, menurut Bayu, agar produk organik Indonesia laku, perlu ada cerita dalam produk itu sendiri. “Tampilkan keeksotisan produk, misal ancient java rice,” katanya.

loading...
loading...