Pemangkasan untuk Pohon Kopi yang Lemah dan Kurang Subur

Pertanianku — Pemangkasan merupakan salah satu tindakan kultur teknis yang dilakukan secara teratur untuk menjaga pertumbuhan tanaman kopi agar tetap sehat dan produktif. Pemangkasan pohon kopi menjadi bagian pemeliharaan yang cukup penting untuk menyediakan cabang-cabang buah produktif dalam budidaya tanaman kopi.

peangkasan pohon kopi
foto: Pertanianku

Pemangkasan adalah pemotongan bagian-bagian tanaman yang tidak dikehendaki, seperti cabang yang tua, kering, dan sudah tidak produktif. Proses pembuangan bagian tersebut bisa memberikan banyak keuntungan untuk pohon kopi. Misalnya, bentuk tajuk tanaman kopi tetap rendah sehingga mudah dirawat dan dipanen, memperoleh cabang-cabang baru yang lebih produktif hingga memudahkan tanaman saat mendapatkan sinar matahari.

Pemangkasan pohon kopi pada dasarnya terbagi menjadi tiga jenis, yaitu pemangkasan bentuk, pemangkasan produksi, dan pemangkasan peremajaan tanaman. Semua pemangkasan ini memiliki fungsinya masing-masing dan harus dilakukan agar produktivitas dapat terus berjalan. Semua rangkaian pemangkasan tanaman ini bisa Anda simak dalam buku Berkebun Kopi terbitan Penebar Swadaya.

Tanaman kopi yang tumbuh lemah dan terlihat kurang subur juga perlu dipangkas. Jika tanaman ini tidak dipangkas, pertumbuhannya akan semakin merana, bahkan bisa mati. Tanaman tersebut tidak akan bisa produktif menghasilkan buah sehingga hanya tumbuh mengeluarkan daun.

Proses pemangkasan tanaman kopi yang tidak subur bisa dilakukan setelah tanaman sudah tumbuh mencapai tinggi 100 m. Pemangkasan dilakukan pada satu cabang primer di ketinggian 70—80 cm. Pada proses pemangkasan tersebut, Anda harus menyisakan dua buku di batang.

Jika tanaman sudah tumbuh setinggi 120 cm, pemangkasan dilakukan pada batang tertinggi dan dikuti pemotongan di cabang primer kedua.

Setelah dipangkas, tanaman dibiarkan tumbuh selama 1—2 tahun hingga tanaman kuat. Biasanya, selama pertumbuhan tersebut akan muncul tunas-tunas air atau wiwilan. Tunas-tunas tersebut harus selalu dibuang.

Baca Juga:  Manfaat Terung Lalapan pada Kuliner Khas Sunda

Setelah tanaman tumbuh dengan kuat, tunas air atau wiwilan yang tumbuh di bagian atas dipelihara sebagai bayonet. Setelah tanaman tumbuh hingga setinggi 180 cm, bayonet tersebut dipangkas dan diikuti pemangkasan cabang primer yang ketiga.