Pemberian Hormon Methyltestosteron dalam Budi Daya Nila

Pertanianku – Ada cara lain yang dapat ditempuh untuk menghasilkan nila jantan selain menggunakan nila Gesit, yaitu dengan pemberian hormon pengubah kelamin, yaitu methyltestosteron (MT). Hormon tersebut diberikan pada fase larva atau saat telur baru menetas. Akan tetapi, idealnya perlakuan hormon dilakukan pada saat telur masih berumur tiga hari ketika bintik mata sudah muncul. Cara ini memang sangat efektif, tetapi harus menempuh berbagai tahapan yang cukup rumit.

Pemberian Hormon Methyltestosteron Budi Daya Nila

Selain rumit, biaya yang dibutuhkan juga cukup besar. Untuk mengetahui efektivitasnya, benih yang telah diberi MT diperiksa gonadnya. Caranya adalah dengan memberikan asetokarmin dan dilihat di bawah mokroskop dengan pembesaran 100 kali. Untuk mendapatkan nila jantan dengan penambahan hormon MT, ada langkah-langkah yang harus dilakukan. Langkah-langkah tersebut meliputi pemijahan induk, pemanenan telur, penetasan, pemberian hormon, dan pendederan.

Loading...

a. Pemijahan

Pemijahan induk nila dilakukan di dalam bak beton berukuran panjang 3 m, lebar 2 m, dan tinggi 1 m. Bak dikeringkan selama 2—3 hari, lalu diisi air setinggi 40—50 cm. Setelah itu, induk jantan dan betina ditebar ke dalam bak pemijahan dengan perbandingan antara jantan dan betina yaitu 1 : 3. Keduanya dibiarkan memijah secara alami. Selain dalam bak beton, pemijahan juga dapat dilakukan dengan menggunakan hapa dengan ukuran yang sama seperti bak beton.

b. Panen telur

Setelah pemijahan, telur yang telah dibuahi akan dipanen. Pemanenan telur dilakukan 10 hari setelah induk ditebar. Namun, sebelum dilakukan pemanenan, bak disurutkan terlebih dahulu menjadi 10—15 cm. Induk betina ditangkap dengan lambit. Telur yang sedang dierami oleh induk betina diambil dengan membuka mulutnya, lalu telur yang ada di dalamnya dikeluarkan satu demi satu. Setelah itu, telur-telur ditampung dalam baskom plastik. Jika pemijahan diterapkan dengan menggunakan hapa, pemanenan cukup dilakukan dengan menarik hapa tersebut, lalu perlakuan selanjutnya sama seperti di bak.

Baca Juga:  Pentingnya Pakan Alami di Kolam Ikan Gurami

c. Penetasan

Penetasan telur nila dilakukan dengan menggunakan corong khusus. Corong khusus tapi sederhana ini dapat dibuat dari corong minyak atau wadah galon air mineral yang dibalik. Ada juga corong yang sudah tersedia di pasaran yang biasanya terbuat dari kain terilin dan fiberglass. Namun, harganya memang cukup mahal. Pada bagian bawah atau bagian ujungnya diberi selang untuk mengalirkan air. Telur ditebar dengan kepadatan 500 butir/l dan dibiarkan menetas selama 5—7 hari. Pengontrolan dilakukan setiap hari. Jika ada telur yang berwarna putih harus dibuang. Jika tidak dibuang kemungkinan telur lain menetas akan sangat kecil.

d. Pemberian hormon

Pemberian hormon dilakukan melalui perendaman. Telur yang berumur tiga hari (organ mata sudah tumbuh dan berwana hitam) dapat dimasukkan dalam wadah berupa kantong plastik berukuran 80 cm x 40 cm yang telah diisi larutan MT konsentrasi 17 ppm dengan jumlah 3.000 butir telur. Agar telur dapat bertahan hidup dan perkembangannya tetap normal, setengah bagian plastik diberi oksigen, lalu diikat dan dibiarkan selama 5—6 jam. Wadah lain yang juga dapat digunakan adalah akuarium atau bak. Untuk jumlah telur seperti disebutkan, akuarium dipilih minimal berukuran 60 cm x 40 cm x 30 cm, sedangkan bak berukuran 2 m x 1 m x 0,6 m. Hal terpenting adalah bahwa media perendaman diaerasi selama 5—6 jam.

Pemberian hormon dapat juga dilakukan melalui pemberian pakan. Larva yang baru habis kuning telurnya dipelihara dalam bak atau hapa berukuran panjang 2 m, lebar 1 m, dan tinggi 0,5 m. Padat tebar larva pada bak/hapa pada ukuran tersebut adalah 1.000 ekor/m2. Setiap hari larva diberi pakan berupa pelet tepung yang telah direndam larutan MT dengan dosis 500 mg/kg pakan. Perlakuan itu dilakukan selama 14 hari sampai benih mencapai ukuran 2 cm.

Baca Juga:  Hal yang Harus Dipersiapkan untuk Budidaya Teripang

e. Pendederan

Pendederan dilakukan dalam kolam berukuran antara 200—500 m2, tetapi itu tidak mutlak. Pada saat ini, para pendeder lebih menyukai kolam berukuran kecil karena lebih mudah dikontrol. Pendederan bertujuan untuk mendapatkan ikan yang siap dipelihara di kolam pembesaran. Kegiatan ini terbagi ke dalam beberapa tahap, yakni persiapan, penebaran benih, pemberian pakan, pengelolaan rutin, danpemanenan. Untuk mendapatkan ukuran benih yang siap dibesarkan, pendederan dilakukan dalam dua tahap selama 45—60 hari. Benih yang dihasilkan dari pendederan ini adalah benih berukuran 8—10 cm dengan bobot antara 8—15 g.

 

Sumber: Buku 6 Jurus Sukses Pacu Pertumbuhan Nila Panen 60 kg per m

 

Loading...
Loading...