Pembibitan Setek Lada


Pertanianku – Iklim mikro sekitar pertumbuhan bibit perlu diatur sedemikian rupa sehingga sesuai dengan keadaan lingkungan yang diperlukan. Pada awal pengakaran dan penumbuhan tunas, kelembapan udara di sekitar bibit harus dipertahankan tinggi (80—90%). Hal ini adalah untuk mencegah kematian setek akibat kekeringan karena transpirasi yang tinggi.

Pembibitan Setek Lada

Untuk menjaga kelembapan udara tersebut dapat dilakukan dengan menempatkan setek di dalam sungkup plastik. Apabila pembibitan dilakukan di rumah kaca, pemberian sungkup atau tudung plastik dan tanpa sungkup tidak menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata terhadap pertumbuhan setek lada, asalkan setek tidak terkena cahaya matahari langsung pada saat awal pengakaran. Untuk hal itu bisa diberikan naungan dari paranet.

Pembibitan dapat dilakukan langsung di tanah atau di dalam kantong-kantong plastik. Bila pembibitan dilakukan di tanah, tanah harus digemburkan sedalam 20—30 cm, dan dibersihkan dari berbagai macam sisa tanaman dan akar-akarnya. Cara penyemaian/pembibitan yang baik dan praktis adalah dilakukan di dalam kantong plastik/polibag. Kantong plastik yang digunakan berdiameter 10 cm dan tinggi 15 cm, diisi campuran tanah (7) + pupuk kandang (3) + 0,5 g dolomit/kg tanah (Wahid, 1981). Pemberian pupuk kandang dari kotoran sapi, kambing, atau ayam dalam media pembibitan secara umum akan meningkatkan pertumbuhan tunas.

Lingkungan yang optimal untuk pembibitan yaitu suhu 220—300 C, kelengasan tanah 80—100%, dan ketersediaan air yang cukup. Kemasaman media yang sesuai adalah untuk kebanyakan varietas adalah 5,9—6,9; walaupuan ada yang masih dapat tumbuh baik pada pH 4,6 seperti varietas LDL, Kuching, dan Jambi. Namun demikian, pada pH di atas 7,5 hampir semua varietas menjadi kurang baik pertumbuhannya.

Bibit yang berasal dari cabang primer/sulur panjat akan mencapai 5—7 ruas setelah berumur 3—4 bulan. Sementara itu, setek yang berasal dari cabang buah untuk menghasilkan lada perdu akan mencapai 5—7 ruas setelah 4—6 bulan. Untuk mempercepat pertumbuhan bibit, dapat diberikan pupuk daun yang mengandung NPK Mg (14-12-14-1) dan unsur mikro Mn, Zn, Cu, B dan Co. Konsentrasi pupuk yang disemprotkan adalah 0,2%.

Baca Juga:  Produksi Pohon Kelapa Sawit Meningkat dengan Cara Ini

Penyakit sering ditemukan sebagai penyebab gagalnya pembibitan. Penyakit yang sering menyerang setek di pembibitan adalah yang disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporum. Penyemaian di bak pasir atau polibag bila daun setek dipotong akan lebih mudah mendapat serangan Fusarium spp. Apalagi bila kondisi persemaian lembap. Luka potongan pada batang setek juga sering menjadi sasaran serangan cendawan ini.

Pembukaan sungkup pada pagi hari dan menutupnya kembali pada siang hari memungkinkan memberikan lingkungan dengan kelembapan 80—90%. Kelembapan mendekati 100% sebaiknya dihindarkan dalam rangka mencegah serangan cendawan terhadap setek. Selain itu, penggunaan fungisida dengan cara mencelupkan bagian batang yang dipotong dalam waktu beberapa detik juga disarankan untuk mencegah serangan penyakit.

Penggunaan zat perangsang tumbuh seperti IAA, IBA, dan GA juga disarankan untuk mempercepat tumbuhnya perakaran dan tunas. Pencelupan setek berakar lekat ke dalam larutan Rhizopon AA 0,20% yang mengandung IBA cukup efektif untuk merangsang pertumbuhan akar setek lada Lampung Daun Lebar. Apabila setek tidak memiliki akar lekat maka konsentrasi larutan perlu ditingkatkan sampai 3%. Waktu yang diperlukan untuk menumbuhkan akar dari setek yang berakar lekat pada media lebih kurang 30 hari dan yang diperlukan oleh setek tanpa akar lekat adalah lebih kurang 60 hari.

Bibit asal setek pendek dalam media polibag yang telah tumbuh minimal dengan empat daun sempurna dan sehat dapat siap ditanam di lahan. Bibit yang kurang sehat menunjukkan gejala kekurangan hara, terserang hama dan penyakit sebaiknya tetap dirawat dahulu di pembibitan sampai mencapai kondisi sehat, baru ditanam di lahan.

 

Sumber: Buku Lada