Pemeliharaan Belut


Pertanianku – Pemeliharaan belut saat pembesaran meliputi pemberian pelepah pisang atau tanaman air seperti eceng gondok dan kambangan. Tujuannya adalah untuk menciptakan rasa aman dan nyaman bagi belut dan sebagai tempat berlindung belut pada siang hari. Pelepah pisang yang digunakan sebaiknya yang masih segar. Cara menempatkannya adalah dengan menelungkupkannya di atas permukaan air. Pemberian eceng gondok dan kambangan selain sebagai tempat perlindungan, juga berfungsi sebagai media penetralisir air, penyerap racun, penyuplai persediaan oksigen, dan penyedia zat hara yang sangat diperlukan oleh belut. Penggunaannya menutupi 80% permukaan air.

Pemeliharaan Belut

  1. Pakan

Jika pakan yang diberikan berupa pelet maka harus dilakukan pemuasaan belut selama kurang lebih dua hari sejak awal penebaran. Selanjutnya, pada hari ketiga mulai diberikan pelet. Belut yang lapar karena dua hari tidak makan akan terangsang dengan bau amis pelet sehingga bersedia untuk memakannya. Jumlah pakan yang diberikan pada belut harus dapat memenuhi kebutuhan nutrisi belut, yaitu kurang lebih 5% dari bobot tubuhnya.

  1. Kualitas air

Sebenarnya, belut tidak memerlukan kualitas air yang khusus dalam pemelliharaanya. Belut sendiri memiliki alat pernafasan tambahan yang berfungsi untuk mengambil oksigen langsung dari permukaan air sehingga dapat bertahan hidup di lumpur atau media yang keruh. Namun, untuk menjamin keberhasilan pembesaran belut, media yang digunakan harus bersih dan tidak tercemar. Pada budi daya ikan, penyebab permasalahan kualitas air terletak pada sisa pakan yang tidak dimakan serta dari hasil buangan ikan. Begitu pula belut, sisa pelet pada media pemeliharaan akan menjadi gas amonia yang dapat mengakibatkan penurunan kualitas air dan dapat menyebabkan kematian pada belut. Untuk mencegahnya, 50% air pemeliharaan harus diganti setiap hari dengan cara menguras dan menggantinya dengan air baru sebanyak yang diganti.

Baca Juga:  Kualitas Ikan Patin Indonesia Berstandar Internasional

Proses pergantian air harus dilakukan secara hati-hati agar tidak terlalu mengusik belut. Selain itu, waktu pergantian juga dilakukan pada pagi hari. Hal ini dimaksudkan karena alasan sebagai berikut.

1) Kebiasaan belut yang mengonsumsi pakan pada malam hari mengharuskan pembudidaya rajin mengecek kondisi air pada pagi hari karena biasanya akan ada sisa pakan yang tidak termakan yang akan membuat air menjadi kotor.

2) Pada pagi hari, belut belum sepenuhnya tidur sehingga jikadilakukan pergantian air tidak terlalu mengusik waktu istirahat  belut.

3) Pergantian air di pagi hari akan menyediakan pasokan oksigen yang segar sehingga usai pergantian air, belut dapat beristirahat tenang dengan pasokan oksigen optimal. Dengan demikian, metabolisme tubuh belut menjadi lebih baik dan tidak mudah terserang penyakit.

4) Ketinggian air harus selalu diatur, yakni dengan membuat lubang batas ketinggian maksimal pada wadah. Dengan demikian, kandungan oksigen tetap terjaga. Lubang tersebut ditutup kain kasa agar tidak ada belut yang menerobos keluar.

  1. Penanggulangan hama dan penyakit

Membicarakan budi daya belut, tidak akan terlepas dari masalah hama dan penyakit. Biasanya, jika wadah yang dilakukan terkontrol maka gangguan hama pada belut dapat dihindari. Jika kondisi wadah tidak terkontrol, hama dan penyakit akan mudah menyerang belut. Penyakit belut dapat disebabkan oleh bakteri atau virus, jamur, kutu, atau cacing, terutama jika lingkungan tidak optimal.

Penyakit yang menyerang belut dapat dikendalikan dengan melakukan hal-hal berikut.

1) Menyeleksi bibit yang dibesarkan dengan ciri-ciri gerakan yang lincah, tubuh proporsional, dan nafsu makan tinggi.

2) Wadah yang akan digunakan sebaiknya dijemur dulu di bawah terik matahari untuk mematikan kuman yang kemungkinan terdapat pada wadah.

Baca Juga:  Ingin Budidaya Gambas Secara Organik? Begini Caranya

3) Air yang digunakan bersumber dari air bersih dan tidak terkontaminasi.

4) Gunakan pakan yang bersih dan berkualitas, yakni disesuaikan dengan kebutuhan belut.

5) Menjaga kebersihan dan kesterilan wadah dan prasarana yang digunakan seperti ember, selang, dan jaring dengan cara mencuci kemudian menjemurnya di bawah terik matahari.

6) Hindari intensitas cahaya yang tinggi untuk mengurangi penyakit mata putih. Bisa dilakukan dengan menutup wadah menggunakan plastik.