Pemerintah akan Impor Beras Lagi


PertaniankuPemerintah akan impor beras lagi dan kabar tersebut memang dibenarkan oleh pihak terkait. Tambahan impor beras sebanyak 500 ribu ton didatangkan dari Vietnam dan Thailand.

Pemerintah akan impor beras
Foto: Google Image

Penambahan beras impor tersebut diputuskan dalam rapat koordinasi (rakor) di kantor Menteri Koordinator Perekonomian. Pemberitaan itu pun dibenarkan oleh Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita pada laman the Voice of Vietnam Online (vov.vn).

Pada pemberitaan itu disebutkan bahwa Perum Bulog telah menandatangani kontrak untuk melakukan pembelian beras sebanyak 300 ribu ton dari Vietnam dan 200 ribu ton dari Thailand.

“Iya, betul. Itu pemasukan April hingga Juli 2018,” kata Enggartiasto seperti dikutip dari Republika, Selasa (15/5).

Dalam berita yang berjudul “Import Demand Continues Boosting Vietnam’s Rice Export” dinyatakan bahwa importasi tersebut merupakan kali ketiga sejak 2018. Chairman Asosiasi Makanan Vietnam (VFA) Nguyen Ngoc Nam membenarkan laporan itu.

Nguyen menyatakan, Perum Bulog telah mengundang The Vietnam Northern Food Corporation dan The Vietnam Southern Food Corporation untuk menyuplai beras itu. Kontrak tersebut akan direalisasikan pada periode April hingga Juli 2018.

“Itu keputusan rakor, bukan keputusan saya. Kemudian, Bulog yang melaksanakan. Ini untuk menambah cadangan beras pemerintah setidaknya hingga tahun depan. Jika tidak ada impor sejak awal maka kita akan defisit,” kata Enggartiasto.

Sebelumnya, pada awal 2018, pemerintah juga telah memutuskan untuk mengimpor beras dari Vietnam dan Thailand sebanyak 500 ribu ton untuk memperkuat stok pemerintah. Hal itu juga dilakukan untuk menekan harga salah satu komoditas pangan tersebut yang pada saat itu mencapai Rp13 ribu per kilogram.

Stok Perum Bulog pada 14 Mei 2018 tercatat sebanyak 1.262.782 ton. Jumlah tersebut terbagi atas 453.787 ton merupakan beras asal impor dan sebanyak 106.186 ton merupakan stok komersial. Sementara itu, sisanya merupakan hasil dari serapan Perum Bulog sejak awal 2018.

Baca Juga:  Kekeringan Mendera Puluhan Hektare Lahan Pertanian Gunung Kidul
loading...
loading...