Pemerintah Membuka Keran Impor 27.400 Ton Daging Sapi Beku

Pertanianku – Pemerintah memutuskan membuka keran impor daging sapi beku sebanyak 27.400 ton. Hal ini dilakukan untuk menstabilkan harga daging sapi di pasaran saat Ramadhan. Bahkan upaya pemerintah terus dilakukan untuk menurunkan harga daging menjadi Rp80.000/kg seperti yang diminta Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Pemerintah Membuka Keran Impor 27.400 Ton Daging Sapi Beku

Namun, ada yang belum dijelaskan pemerintah, kenapa impor tersebut dilakukan dan apakah benar harga daging bisa Rp80.000/kg?

Deputi Bidang Pangan dan Pertanian Kemenko Bidang Perekonomian Musdalifah Machmud mengatakan, berdasarkan regulasi ada dua pilihan impor pertama sapi bakalan dan kedua adalah karkas atau daging siap konsumsi.

Lebih lanjut Machmud menjelaskan, sapi bakalan itu membutuhkan waktu 4 bulan untuk dibesarkan dan digemukkan agar memperoleh nilai tambah ketika dipotong. Karena, butuh waktu lama, maka pemerintah memutuskan untuk tidak impor sapi bakalan.

“Kita mengondisikan harga supaya memasuki Ramadhan harga bisa lebih rendah dan regulasi (impor) itu diterbitkan. Bulan Ramadhan masuk di awal Juni dan kita tidak bisa tambah sapi bakalan di April ke belakang karena kita masih butuh 4 bulan untuk dikonsumsi, sehingga yang masuk adalah daging sapi beku,” ujar Kemenko Bidang Perekonomian Machmud seperti dilansir Okezone (14/6).

Menurut Besaran kuota impor daging sapi beku sudah dihitung dengan detail, berapa jumlahnya. Hal ini dilakukan karena fenomena hari raya Lebaran harga itu naik dan itu wajar. Sekarang pemerintah bermaksud bagaimana saat masyarakat berpesta merayakan hari raya selayaknya harga turun. “Kita ingin mengondisikan bahwa hari raya ini sedang dalam pesta diskon dan kita ingin Indonesia bisa melakukan,” ucap Machmud.

Menurutnya, karena masa Ramadan sudah tiba ditambah dengan produksi dalam negeri yang kurang maka opsi terakhir pemerintah adalah impor.

Baca Juga:  Kupas Tuntas Budidaya Belut Memenangkan Buku Terbaik Pekan Penghargaan 2021

“Sebenarnya impor pilihan terkahir. Kalau pemerintah sudah melakukan berapa supaya dan kita sudah itung dengan detail, berapa sih yang kita bisa pasok dalam negeri yang kemudian sisanya harus sediakan untuk masyarakat antara lain dengan impor sapi,” tutur Machmud.