Pemerintah Terus Mendorong Pamor Sorgum

Pertanianku — Saat ini sebagian besar masyarakat Indonesia masih bergantung pada beras sebagai bahan pangan pokok sumber karbohidrat. Padahal, masih ada beberapa bahan pangan lainnya yang bisa menjadi sumber karbohidrat seperti jagung dan sorgum. Kedua bahan pangan tersebut memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dibanding beras, yakni 8–11 persen. Begitu pun dengan kandungan mineralnya yang lebih tinggi.

sorgum
foto: Pixabay

Tingginya potensial sorgum dan jagung membuat Presiden Joko Widodo tertarik untuk menjadikan biji sorgum sebagai alternatif penyedia karbohidrat. Pada kunjungannya ke ladang sorgum modern di Nusa Tenggara Timur (NTT) Presiden Jokowi menekankan, uji coba penanaman sorgum merupakan usaha untuk menghadapi krisis pangan global. Krisis tersebut bisa saja terjadi pada hari ini ataupun di masa yang akan datang.

Organisasi Pangan Dunia (FAO) terus mengingatkan negara-negara anggotanya terkait kemungkinan krisis pangan global. Hingga Mei 2022, harga pangan dunia masih bergerak di level 145. Selain itu, diperburuk oleh perang di Ukrania dan inflasi yang tengah melanda dunia.

Pemerintah Indonesia merespons situasi ancaman krisis tersebut dengan mendorong petani menanam jagung, umbi-umbian, dan sorgum yang dapat djadikan bahan pangan alternatif.

“Harapannya kita miliki alternatif pangan dalam rangka krisis pangan dunia. Kalau kita ada berlebih, ada stok, ya enggak apa-apa. Justru ini yang kita inginkan. Kita ekspor dan menghasilkan devisa bagi negara,” tutur Presiden Jokowi seperti dilansir dari laman Indonesia.go.id.

Menurut Presiden Jokowi, ketergantungan terhadap beras tidak boleh dibiarkan sehingga perlu disediakan alternatifnya. Hal ini karena bila sewaktu-waktu bahan pangan alternatif diperlukan, persediaan sudah ada. Itu sebabnya lahan yang ada perlu dioptimalkan pemanfaatannya.

Sorgum dipilih untuk ditanam di Sumba karena pada musim sebelumnya penanaman jagung tidak begitu berhasil. Sorgum dianggap pilihan yang tepat karena keuntungan bersihnya bisa mencapai Rp50 juta per tahun.

Baca Juga:  Vaksinasi PMK Secara Massal untuk Pengendalian PMK

“Artinya, kalau dibagi dua belas, per bulannya mencapai lebih empat jutaan rupiah. Ini juga hasil yang tidak kecil,” imbuhnya.

Di Indonesia, sorgum memang relatif baru populer dibanding jagung. Tanaman pangan ini baru diintroduksi ke Nusantara pada 1925. Benihnya didatangkan dari Mesir. Sampai saat ini produksi sorgum di Indonesia belum dilakukan dalam skala yang besar. Sentra produksinya baru tersebar di Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, NTB, dan NTT. Jumlah produksinya diperkirakan kurang dari 10 ribu ton.

Meski demikian, potensi tanaman pangan ini tergolong besar. Itu sebabnya Kementerian Pertanian telah menyediakan varietas unggul dan genjah.