Pendapatan Desa Ini Meningkat Berkat Bawang Putih

0

Pertanianku – Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Putro Sandjojo, mengimbau setiap desa untuk mengembangkan produk-produk hortikultura unggulan seperti bawang putih. Jika program ini berjalan dengan baik, Eko optimis akan memberikan dampak positif bagi masyarakat desa dan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.

“Dengan fokus pada produk unggulan, maka skala produksinya akan semakin besar. Saya yakin sarana pascapanen akan masuk, gudang juga tersedia, sehingga para petani saat panen tak pusing lagi tentang harga. Pendapatan juga bisa meningkat,” kata Eko, seperti mengutip Republika (29/5).

Selain fokus pada satu produk, Eko juga meminta agar desa-desa di Nusa Tenggara Barat membuat embung. Hal tersebut dapat membantu mendorong produktivitas pertanian. Masa panen bisa meningkat menjadi 3 sampai 4 kali panen dalam setahun.

Menurutnya, infrastruktur embung dapat dibangun dengan mengalokasikan dana desa sebesar Rp200 hingga Rp500 juta. Jika tidak fokus pada produk unggulan atau sektor pariwisata dan tidak membuat embung, ia mengancam tahun depan dana desa tidak akan dinaikkan.

Manfaat dari fokus pada satu produk unggulan telah dirasakan oleh para petani di Desa Sembalun Lawang. Pasalnya, saat ini mereka fokus mengembangkan bawang putih sebagai produk hortikultura unggulan di desa. Bahkan, dampaknya pun telah dirasakan dengan meningkatnya pendapatan petani sekitar.

Hal serupa juga dirasakan oleh Ketua Kelompok Tani Lembah Pusuk, Indriati, mengatakan tambahan pendapatan meningkat rata-rata minimal 25 persen atau sekitar Rp30—Rp45 juta. Penghasilan itu baru dari bawang putih saja. Dengan luas ladang mencapai 200 hektare, warga mampu memproduksi hingga 17 ton tiap hektarenya. Masa panennya sendiri setiap 3,5 bulan.

“Di sini terkenalnya bawang putih Sangga Sembalun. Aromanya lebih kuat, pedasnya juga lebih terasa. Kalau bawang putih lain itu butuh 10 siung, bawang ini hanya butuh 3 siung. Dengan keunggulan tersebut, produk kita bahkan mampu memasok hingga ke pulau seberang,” ujar Indriati.

Semangat untuk mengembangkan bawang muncul kembali karena keyakinan akan ciri khas produk unggulan pertanian Desa Sembalun yang tak dimiliki daerah lainnya. Terlebih, tambahan pendapatan telah dirasakan warga.

Lebih lanjut Indriati mengungkapkan, bawang putih Sangga Sembalun pernah dikirim ke Bali hingga 37 ton, Bima 8 ton, Kupang 2 ton, dan Kalimantan 1,5 ton. Cita-cita Desa Sembalun dengan pengembangan produk unggulan ini adalah menjadi sentra bawang putih dan memenuhi stok nasional.

loading...
loading...