Penebangan Liar, Pohon Cemara Hinoki dan Cedar Terancam Punah


PertaniankuPohon cemara hinoki dan pohon cedar di Taiwan saat ini keberadaannya terancam. Banyak penebang liar yang mengincar pohon-pohon tersebut untuk dijual kembali kepada kolektor.

Pohon cemara hinoki dan pohon cedar
Foto: Google Image8

Beberapa alasan yang menjadi daya tarik para penebang liar terhadap pohon tersebut, seperti material kayu yang kuat, aromatik, dan minyak yang dikandung dapat menjadi obat.

Sekitar 60 persen daratan di Taiwan adalah kawasan hutan dan penebangan secara liar sudah dilarang sejak 1991. Daerah pedalaman tengahnya, yaitu Nantou, Chiayi, Hsinchu, dan Miaoli, dikenal sebagai rumah tanaman teh dan beberapa pohon tertua yang terancam punah. Sayangnya, pohon-pohon langka tersebut justru menjadi incaran utama para pemburu.

Untuk melancarkan perburuannya, mereka menebang pohon secara utuh kemudian memotongnya kecil-kecil agar mudah dibawa keluar hutan. Setelah itu, secara ilegal kayu-kayu tersebut dijual ke pasar seni, diselundupkan dengan cara dicampur bersama kayu-kayu legal. Cara ini membuat pihak berwenang kesulitan untuk mengatasi kasus tersebut.

Frank Lin, Direktur Jenderal Biro Kehutanan Taiwan mengatakan, satu kali perjalanan dalam operasi perburuan dapat menghasilkan keuntungan hingga 30.000 dolar Taiwan atau setara dengan Rp14 juta. Pendapatan ini melampaui upah minimum per bulan di Taiwan.

Sebagian besar kayu ilegal berakhir di pasar seni dalam bentuk ukiran atau patung. Salah satu pemilik toko mengaku bahwa mereka memang menjual kayu-kayu ilegal tersebut. Mereka menjualnya dalam bentuk perabotan, patung Buddha, dan apel kayu (guimu pingguo) yang dipercaya membawa keberuntungan.

Meskipun ada rasa takut yang membayangi, mereka mengaku tidak keberatan menjual barang ilegal tersebut.

“Polisi tidak selalu tahu toko mana yang menjual kayu ilegal, jadi mereka fokus pada pemburu,” kata Willy Lee, salah seorang pemilik toko seni.

Ratusan penebang liar ditangkap setiap tahunnya karena mengincar pohon langka tersebut. Tercatat pada 2016, terjadi 244 penangkapan dan pada 2017 terjadi 239 penangkapan. Petugas kehutanan mengatakan, selama ini para pelaku menyamarkan diri sebagai pekerja imigran dari Vietnam.

Meskipun masih terhitung tinggi, jumlah penangkapan telah menurun dalam dekade terakhir. Frank Lin mengatakan bahwa sistem pemantauan lebih dikuatkan. Untuk kedepannya, biro kehutanan melakukan kerja sama dengan polisi khusus, biro penyelidikan dan imigrasi untuk menuntaskan kasus semacam ini.