Penerapan Kolam Bulat Pada Sistem Budidaya Lele Bioflok, Terbukti Lebih Mudah Dan Murah !


PERTANIANKU.COM– Perkembangan dunia perikanan kini semakin baik!  Sistem bioflok merupakan salah satu teknik budidaya lele yang sedang booming di masyarakat. Sistem bioflokpada budidaya lele yaitu suatu sistem pemeliharaan dengan menumbuhkan mikroorganisme yang berfungsi untuk mengolah limbah menjadi pakan alami untuk lele tersebut. Penggunaan sistem  bioflok pada budidaya lele dapat menghemat pakan hingga 20-30%. Adalah Badan Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang yang mempelopori inovasi terbaru dari sistem bioflok pada budidaya lele ini.  Inovasi yang dipelopori oleh BLUPPB ini merupakan modifikasi dari sistem tata laksana bioflok terdahulunya, yaitu pada penggunaan kolamnya.

Memlih Usaha Pembesaran Lele

Kolam yang digunakan pada inovasi buatan BLUPPB ini yaitu kolam bulat.  Menurut Baemahdi salah satu pembudidaya lele di Karawang, seperti dikutip dari Jitunews.com penggunaan kolam bulat pada budidaya lele bioflok justru memudahkan dalam pembersihan kolam dan pada saat pemanenan. Selain itu, pemberian pakan juga cukup 2 kali dalam sehari.

Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan kolam bulat juga memudahkan untuk membongkar pasang  sehingga pas untuk masyarakat yang memiliki lahan sempit. Kolam dibuat dari bahan terpal yang tebal dan dilapisi sekam di bagian bawah agar mampu meredam panas hasil proses budidaya. Rangka kolamnya dibuat dari besi wermes yang dikaitkan dengan cara pengelasan. Umumnya diameter kolam dibuat sebesar 3 meter.

Penggunaan kolam bulat pada budidaya lele bioflok ini terbukti dapat mendongkrak pendapatan para pembudidaya lele. Seperti yang ungkapkan oleh Supriyadi yang dikutip dari Jitunews.com, penerapan kolam bulat ini sudah dilaksanakan di beberapa daerah di Indonesia seperti Karawang, Brebes, Pemalang, Magelang, Malang, dan Kediri.

BLUPPB menargetkan panen yang harus dicapai dalam satu siklusnyayaitu 5,3 tin lele dengan nilai ±Rp19.095. Menyinggung soal keuntungan yang diterima oleh para pembudidaya mencapai Rp19.095.000 per siklusnya (satu skilus selama empat bulan). Oleh karena itu, dapat dipastikan jika teknik ini sangat layak untuk digunakan.

Baca Juga:  Ternyata Ini Penyebab Telur Ikan Rentan Terkena Jamur
loading...
loading...