Pengembangan Tani Kota di Pot atau Polibag

Pertanianku – Uji coba budi daya di pot atau polibag yang ukurannya bersesuaian selalu memberikan hasil yang lebih baik karena memang bioreaktor yang dikembangkan oleh tanaman dengan sendirinya akan lebih sempurna. Sementara di lapangan akan melibatkan lebih banyak faktor lain yang tidak terkendali dengan baik. Pada kenyataannya penggunaan teknologi intensifikasi proses untuk tanaman di pot mampu memberikan peningkatan produktivitas yang sangat berarti hingga 10 kali lipat sehingga merupakan sesuatu yang bisa dipertimbangkan untuk mengembangkan gagasan pertanian produktif baru, yang lebih dapat diandalkan, lebih mandiri dengan sumber pasokan lokal, dan lebih menjamin kesinambungan. Untuk maksud tersebut, memerlukan perancangan gagasan yang lebih menyeluruh dengan pola pikir yang telah diubah.

Pengembangan Tani Kota di Pot atau Polibag

Memanfaatkan sampah rumah/lingkungan/kota untuk kompos dan menggunakan kompos yang dihasilkannya untuk pertanian di pot dapat dilaksanakan oleh masyarakat di rumah/kota/desa. Bukan saja untuk maksud tanaman hias (estetika) atau bahan racikan obat atau bahan bumbu makanan, tetapi untuk menjaga ketersediaan dan keanekaragaman pangan sebagai bagian dari program ketahanan pangan dan kesehatan di kota maupun di desa. Dengan demikian, penulis sedang mulai membangun kembali budaya pertanian kota yang baru. Baru dari sisi argumentasi ilmiah, tetapi lebih sesuai dengan kearifan budaya dan kecerdasan lokal yang telah ada.

Pengembangan budi daya produktif di pot bukan saja membuka peluang pembudayaan pertanian di kota, tetapi juga membawa kegiatan produktif secara terdistribusi ke wilayah konsumen. Dengan demikian, prinsip production on demand dapat juga dikembangkan secara multiskala, yaitu ke skala yang lebih tinggi seperti kebun dan wilayah pertanian.

Penerapan tani-kota atau agrohome ini bisa disertai dengan upaya membangun kembali budaya tani pada skala rumah tangga. Bahkan, penulis mengharapkan mampu membangun kembali budaya tani skala nasional sebagai upaya yang paling bisa diandalkan untuk membangun ketahanan pangan keluarga dan nasional Indonesia. Rumah tangga bisa menyimpan persediaan pangannya dalam bentuk padi, lalu dengan mengunakan alat penggiling dapat dihasilkan beras pecah kulit, dedak, dan sekam. Dedak yang masih segar dan sangat kaya dengan orizanol dan tochoperol yang dianggap dapat menyehatkan badan dan menghambat penuaan serta dapat langsung digunakan dalam makanan penyerta yang siap hidang juga. Sementara itu, sekam yang diperoleh dapat digunakan sebagai bahan bakar kompor sekam yang telah teruji pula kinerjanya. Dengan demikian, pemahaman kearifan lokal budaya Sunda yang menunjuk leuweung sebagai infrastruktur alam menjadi lebih realistis karena akan lebih banyak lahan pertanian tersedia yang akan beralih fungsi justru untuk penguatan infrastruktur alam menjadi hutan dan semak belukar atau leuweung, yang bisa diterapkan secara lebih terdistribusi baik, di dataran tinggi, dataran rendah, maupun perkotaan.

Baca Juga:  Sneakers Ramah Lingkungan dari Limbah Sekam Padi

 

Sumber: Buku Padi Sri Organik

 


loading...