Pentingnya Memperhatikan Pengelolaan Air Kolam Lele dengan Baik


Pertanianku – Walaupun lele merupakan makhluk yang hidup di perairan, media pemeliharaannya tidak boleh sembarangan. Tidak sedikit pembudidaya lele yang gagal hanya karena salah dalam mengolah air untuk pemeliharaan lele. Ternyata air yang dibutuhkan untuk pemeliharaan lele bukan semata-mata air yang bersih. Air pemeliharaan sebaiknya tidak kesat, tetapi berlendir. Dengan adanya lendir, kulit lele tidak akan rusak akibat bersentuhan langsung dengan air. Secara ilmu pengetahuan, lele membutuhkan kondisi air yang mengandung kadar oksigen 6 ppm, bersuhu 26—30o C, dan kandungan CO2 kurang dari 12 ppm. Namun, bagi para pembudidaya tentu agak kesulitan untuk mengetahui parameter tersebut. Secara umum air yang digunakan untuk memelihara lele bisa berupa air sumur atau air sungai yang telah diendapkan sekitar 24 jam.

Perhatikan Pengelolaan Air Kolam Lele dengan Baik

Untuk pemeliharaan benih, proses pergantian air dilakukan bersamaan dengan penyortiran, yaitu setiap 10 hari sekali. Caranya, sebagian air pemeliharaan sebelum sortir (bagian permukaan) dipindahkan ke kolam penampungan atau langsung ke kolam yang akan digunakan untuk memelihara benih hasil sortiran. Pemindahan air bisa menggunakan pompa. Setelah itu, air tersebut dicampur dengan air baru yang telah diendapkan sebelumnya. Air lama yang dibuang adalah sepertiga bagian, lalu ditambah air baru. Jika air lama dibuang terlalubanyak, dikhawatirkan benih bisa stres. Namun, perlu diketahui bahwa penggunaan air lama harus dipastikan terlebih dahulu bahwa memang kondisi benih yang dipelihara di air tersebut sehat, tidak dalam keadaan sakit. Jika benih sakit, sebaiknya jangan menggunakan air pemeliharaan tersebut. Ketinggian air pemeliharaan benih sekitar 30—40 cm.

Membuat air berlendir cukup mudah, yaitu memupuknya dengan pupuk kandang. Namun, ada juga peternak yang sudah meninggalkan cara ini. Mereka beralih menggunakan probiotik yang praktis dan menurutnya lebih aman. Dosisnya tertera pada label dan biasanya berbeda sesuai dengan jenis kolam. Cara termutakhir saat ini diciptakan oleh praktisi lele asal Sukabumi, Usni Arie. “Cukup dengan dedak dan ragi. Dosis dedak adalah 25 g/m2, sedangkan dosis ragi adalah 3—5 g/m2”, ujarnya.

Ramuan dedak dan ragi ini disebut dengan pupuk higienis (PH). Setelah  diberikan ke kolam, air harus didiamkan selama 3—4 hari sampai warnanya berubah menjadi kehijauan. Air dengan kondisi seperti itu menandakan air sudah siap ditebar benih.

 

Sumber: Buku Belajar Dari Kegagalan Bisnis Lele