Penyakit Busuk Buah Pala Menyerang Perkebunan Pala di Pesawaran Lampung

Pertanianku — Pala merupakan tanaman asli Indonesia yang sejak dahulu berperan penting dalam perekonomian. Banyak pihak yang menginginkannya karena digunakan untuk bahan baku beberapa industri, seperti parfum, kosmetik, pasta gigi, farmasi, dan makanan. Sayangnya, perkembangan budidaya pala di Indonesia masih terganjal oleh berbagai masalah, salah satunya serangan penyakit busuk buah pala yang sempat terjadi di Kabupaten Pesawaran, Lampung.

penyakit busuk buah pala
foto: Trubus

Kelompok Tani Mekar Abadi 1 menyebutkan, penyakit busuk buah pala merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan penurunan produksi sehingga berdampak pada pendapatan yang didapatkan.

Serangan penyakit ini menimbulkan gejala berupa muncul bercak berwarna kecokelatan pada bagian pangkal buah, kemudian bercak tersebut menjalar ke buah. Bercak tersebut akan berkembang dengan sangat cepat, dalam beberapa hari ukuran bercak sudah mencapai 2,5 cm. Kehadiran bercak tersebut membuat warna buah menjadi cokelat seperti habis direbus. Bila buah dibuka, bagian dagingnya akan tampak busuk berwarna cokelat, lunak, dan berair/basah.

Buah pala yang sudah terserang penyakit busuk akan mudah gugur. Ketika cuaca sedang cukup kering buah akan mengeriput. Sementara itu, pada cuaca yang cukup lembap permukaan buah yang sakit akan dipenuhi miselium berwarna putih kelabu dan konidium berwarna jingga.

Penyakit ini biasanya menyerang buah saat musim hujan. Buah yang diserang rata-rata berumur 4 bulan lebih. Melansir dari laman ditjenbun.pertanian.go.id, penyakit busuk buah pala dapat dicegah dengan beberapa cara, mulai dari pengendalian secara mekanis, biologi, hingga kimia.

Pengendalian secara mekanis dilakukan dengan mengurangi kelembapan pada areal kebun. Cabang yang saling tumpuk dan yang tidak produktif dikurangi agar cahaya matahari bisa masuk. Sanitasi lingkungan dijaga dengan cara membuang buah yang terinfeksi.

Selanjutnya, pengendalian secara biologi dapat dilakukan dengan menggunakan agen hayati seperti Trichoderma sp. Terakhir, pengendalian secara kimia dilakukan dengan menggunakan fungisida berbahan aktif benomil.

Baca Juga:  Keunggulan Kacang Tanah Talam 1 yang Toleran di Tanah Masam

Saat ini Indonesia merupakan penghasil pala terbesar di dunia. Ekspor pala Indonesia berhasil memenuhi 60% dari kebutuhan dunia. Sisanya sekitar 40% dipenuhi oleh Grenada, Madagaskar, India, Sri Langka, dan Malaysia.