Penyakit Demam Babi Afrika Menyerang Ternak Babi di Flores Timur

Pertanianku Demam babi afrika atau African swine fever (ASF) merupakan penyakit infeksius yang menyerang babi dan bersifat hemoragik dan sangat menular. Penyakit ini bisa menimbulkan perdarahan di berbagai organ internal dan disertai dengan angka kematian yang menjadi sangat tinggi.

demam babi afrika
Foto: Pixabay

Penyakit demam babi disebabkan oleh virus DNA dengan untai ganda dari genus Asfivirus dan famili Asfaviridae. ASF sangat tahan terhadap pengaruh lingkungan dan stabil pada pH 4—13. Virus tersebut juga tahan hidup di dalam darah selama 18 bulan dan di dalam daging selama 15 minggu. Di dalam daging beku, virus bisa bertahan selama beberapa tahun, di dalam ham bertahan 6 bulan, dan di dalam kandang babi bertahan selama 1 tahun.

Babi sangat peka terhadap penyakit ASF. Manifestasi penyakit secara klinis bisa terlihat pada babi domestik. Sementara itu, pada babi hutan, babi semak, dan babi hutan raksasa tidak menunjukkan gejala klinis saat terinfeksi tetapi bisa berperan sebagai reservoir virus.

Dilansir dari cybex.pertanian.go.id, penyakit ini teridentifikasi pertama kali pada 1921 di Kenya, Afrika Timur. Selanjutnya, pada 1957 menyebar ke Portugal dan beberapa negara di Asia Tenggara. Di Asia, penyakit mulai ditemukan pada 2010. Pada 2019 dilaporkan tujuh negara di Asia Tenggara telah terinfeksi penyakit ini, salah satunya Indonesia.

Indonesia sudah mengumumkan kejadian penularan penyakit demam babi melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 820/KPTS/PK.320/M/12/2019 tentang Pernyataan Wabah Penyakit Demam Babi Afrika pada beberapa kabupaten atau kota di Sumatera Utara.

Pada 2020 penyakit ini mulai mewabah di Timor Leste dan beberapa bulan kemudian penyakit mulai masuk ke Provinsi Nusa Tenggara Timur, seperti di Kabupaten Belo dan Malaka. Setelah itu, menyebar di seluruh wilayah NTT termasuk Kabupaten Flores Timur. Februari 2021 dilaporkan telah terjadi kematian ternak babi yang cukup tinggi mencapai 85 persen dari populasi. Penyakit ini tidak bersifat zoonosis sehingga tidak menular ke manusia.

Baca Juga:  Kenali Faktor Penghambat Usaha Ternak Sapi Potong

Penularan dapat terjadi melalui darah, cairan tubuh, dan jaringan babi yang sudah terinfeksi. Oleh karena itu, penularan terjadi ketika babi berkontak langsung dengan babi yang sakit. Penularan juga bisa terjadi melalui peralatan, pakan, dan minuman yang sudah tercemar.

Babi yang sudah terinfeksi akan terlihat tanda-tanda kemerahan pada bagian perut dan scrofum, diare berdarah, berkumpul bersama dan kemerahan pada telinga, demam hingga 41°C, kesulitan bernapas, serta tidak mau makan.

Peternak harus segera melapor kepada petugas dinas peternakan setempat jika ada babi yang mati. Babi yang mati harus dikuburkan utnuk mencegah penularan yang lebih luas. Babi yang sakit tidak boleh dijual. Setelah itu, lakukan isolasi ternak babi dan peralatan serta melakukan pengosongan kandang selama 2 bulan.