Penyakit Phytophora sp., Penyakit Kakao yang Kerap Timbul di Musim Hujan

Pertanianku — Penyakit Phytophora sp. merupakan penyakit kakao yang ditakuti oleh petani pada saat curah hujan sedang tinggi karena bisa menurunkan produksi hingga 10—20 persen. Infeksi penyakit ini terjadi pada daun, tunas, batang, akar, dan bunga. Namun, infeksi yang terjadi pada buah yang masih pentil akan menyebabkan kerugian yang cukup berarti.

penyakit kakao
foto: pertanianku

Beberapa spesies yang menyebabkan penyakit Phytophora sp. adalah P. capaici, P. citrophthtora, P. palmivora, P heaveae, P. medii, P. nicotinae, dan P. bootryosa. Infeksi penyakit ini harus diwaspadai karena bisa langsung menyebar antarbuah melalui percikan air hujan dari permukaan tanah, serangga, atau vertebrata.

Buah yang sudah terinfeksi akan mengalami kerusakan biji setelah 15 hari pasca-infeksi. Gejala infeksi penyakit Phytophora sp. ditandai dengan timbulnya bercak berwarna kelabu kehitaman yang biasanya timbul di ujung buah. Bercak tersebut mengandung air dan kemudian akan berkembang hingga menjadi berwarna hitam.

Loading...

Buah yang sudah terdapat gejala tersebut, lama-kelamaan akan mengalami kerusakan biji bersamaan dengan kerusakan buah. Pembentukan spora Phytophora sp. ditandai dengan adanya warna putih atau bercak hitam yang sudah semakin meluas. Pertumbuhannya akan semakin pesat saat suhu udara sebesar 27,5—30°C dengan kelembapan 60—80 persen. Pertumbuhan spora akan berlangsung di batang dengan gejala bercak bulan berwarna cokelat di dekat permukaan tanah.

Batang yang sudah ditumbuhi oleh spora penyakit saat dikerok akan terlihat berwarna cokelat dan bagian dalam kayunya terlihat membusuk.

Penyebaran penyakit kakao ini semakin mudah saat lingkungan lembap dan adanya serasah di permukaan tanah. Buah yang membusuk pun akan menjadi penyebab infeksi pada buah lain yang berdekatan. Di Papua Nugini, penyakit ini disebabkan oleh serangga.

Baca Juga:  Pepaya Carmida Bagus untuk Memenuhi Kebutuhan Vitamin C Tiap Hari

Pengendalian penyakit ini bisa dilakukan secara biologis dengan cara menata serasah agar tidak berserak dan memetik buah yang sudah terinfeksi dari pohon sesegera mungkin. Pengendalian juga bisa dilakukan dengan penyemprotan fungisida Dithane M-45 atau Manzat 6 dengan dosis masing-masing 800 gram dan 400 gram per hektare.

Anda juga bisa menggunakan metallyc copper 2,4 kg per hektare dan sudah terbukti memberikan hasil yang terbaik.

Loading...
Loading...