Penyiangan Gulma Tanaman Cabai yang Efektif

Pertanianku — Penyiangan menjadi salah satu kegiatan yang perlu rutin dilakukan selama masa pemeliharaan, sekalipun Anda sudah menggunakan mulsa plastik hitam perak (MPHP). Mulsa tersebut menyebabkan gulma tumbuh subur di parit antarbedengan. Penyiangan gulma tanaman cabai harus dilakukan dengan benar karena berpengaruh terhadap produksi tanaman serta tenaga kerja, waktu, dan biaya yang dikeluarkan.

penyiangan gulma
foto: pertanianku

Gulma dapat tumbuh subur di parit karena sebagian pupuk yang diberikan terbuang ke parit akibat penyiraman. Gulma tersebut dapat mengganggu produksi tanaman cabai karena merebut pupuk, air, dan sinar matahari yang dibutuhkan tanaman. Selain itu, gulma juga bisa menjadi sumber penyakit bagi tanaman atau menjadi inang hama yang merugikan.

Kondisi lahan dikatakan sehat apabila bersih dari gulma dan bagian-bagian tanaman yang gugur, seperti daun, ranting, buah, dan lain-lain.

Penyiangan bisa dilakukan setiap tiga mingggu sekali. Hal ini dinilai cukup efektif untuk menghemat biaya untuk menyiangi. Meskipun kehadiran gulma-gulma tersebut akan mengganggu pemandangan dan produksi, cara ini dianggap mampu menekan biaya pemeliharaan.

Selain itu, Anda bisa menggunakan herbisida purnatumbuh. Penggunaan herbisida dinilai lebih hemat dibanding melakukan penyiangan gulma secara manual. Bila gulma yang tumbuh dominan adalah golongan rumput, herbisida yang digunakan adalah Rumpas dengan konsentrasi 1 ml/liter. Pemberian herbisida ini akan membuat gulma berdaun lebar masih bisa bertahan.

Apabila jumlah gulma rumput dan daun besar seimbang, Anda bisa menggunakan herbisida Basta 150 WSC dengan konsentrasi 5 ml/liter. Penyemprotan herbisida tidak boleh sampai mengenai tanaman cabai. Sebaiknya, herbisida diaplikasikan dengan corong (shield) agar butirannya tidak terlempar ke tanaman cabai.

Namun, jika Anda enggan atau takut menggunakan herbisida, cara satu-satunya yang bisa dilakukan adalah penyiangan gulma secara manual. Untuk menghemat biaya, pastikan pekerja tidak bekerja secara bergerombol dalam satu bedengan sehingga pekerjaan akan lebih cepat selesai.

Baca Juga:  Strategi Pengendalian Hama Terpadu ala Indonesia dan Brunei Darussalam

Penyiangan dilakukan saat gulma tumbuh rapat atau sudah berukuran sedang tetapi tidak terlalu tinggi. Dengan begitu, interval penyiangan menjadi lebih lama. Misalkan, penyiangan dilakukan setiap 21 hari, padahal biasanya penyiangan dilakukan setiap 15 hari sekali.