Perbanyakan Jati secara Vegetatif


Pertanianku – Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi budi daya tanaman, saat ini telah tersedia bahan tanaman jati hasil rekayasa teknis, baik melalui pengembangan benih dari pohon plus maupun teknologi kultur vegetatif. Hasilnya berupa klon atau kultivar tanaman jati dengan daur produksi ekonomis sekitar 15 tahun sehingga dalam kurun waktu relatif singkat dapat diperoleh nilai produksi yang cukup menjanjikan.

Perbanyakan Jati secara Vegetatif

Perbanyakan atau pengembangan secara kultur jaringan atau kultur tunas merupakan upaya pengembangan tanaman melalui pembiakan sel-sel meristimatis dari jaringan tanaman, seperti pucuk/ tunas, ujung akar, embrio benih, atau bunga. Perbanyakan ini dilakukan dalam laboratorium secara aseptik dengan menggunakan media cair dan atau media padat (agar bacto) yang ditempatkandalam bejana (botol, tabung gelas). Dilengkapi pula dengan peralatan kultur dan ruangan, seperti laminar air flow, shaker inkubator, dan inkas. Secara keseluruhan, cara ini terpola dalam kondisi bebas dari pencemaran (kontaminasi) dari jenis mikroorganisme yang kasat mata (virus, bakteri, jamur, dan lain-lain).

Dalam perbanyakan kultur tunas jati, diperlukan alat dan bahan seperti lemari aliran udara steril (laminar air flow), lemari pertumbuhan (inkubator), mikroskop dengan lampu luar, sepasang pinset arloji, sepasang jarum runcing, pisau bedah atau cuter/silet cukur, tabung pyrex (12 x 100 mm), kertas saring steril, etanol 70%, dan larutan natrium hypokhlorit. Selanjutnya, siapkan bahan dan pereaksi yang terdiri dari bahan tanaman (planlet) dari tunas jati, hormon tumbuh kinetin atau benziladenin, hormon auksin (NAA) dengan konsentrasi 10; 5; 0,5; dan 0,1 μ M, serta hormon asam giberelat (GA3) dengan konsentrasi 1 hingga 0,001μ M.

Media pertumbuhan yang digunakan berupa media standar berasal dari MS (Murashige & Skoog). Bahan media MS tertera dalam Tabel 3, sedangkan proses pembuatannya sebagai berikut.

Baca Juga:  Cara Perbanyakan Tanaman Kopi dengan Biji

1) Panaskan air sesuai kebutuhan, masukkan agar bakto sebanyak 0,6% dari volume air, tambahkan hormon NAA sesuai jumlah yang dibutuhkan.

2) Setelah bahan larut, masukkan media ke dalam tabung reaksi, kemudian ditutup dengan kapas, pH diatur pada 5,7 dengan penambahan KOH atau HCl.

3) Sterilkan media dalam otoklaf pada tekanan 20 psi selama 20 menit.

4) Dinginkan media dalam tabung reaksi pada suhu kamar (dapat disimpan selama 6—8 minggu pada suhu 4° C). Adapun prosedur pelaksanaan kultur tunas sebagai berikut.

1) Potonglah tunas-tunas jati dengan pisau steril (telah dicuci dengan etanol 70% dan dibilas akuades) dalam ruang aliran udara (laminar air flow)

2) Sterilkan potongan tunas tersebut dengan etanol 70%, kemudian masukkan ke dalam natrium hipoklorit 7% selama 5—6 menit. Lalu, cuci dengan akuades dan diulang 5—6 kali.

3) Tanamlah potongan tunas dalam media kultur dan simpan dalam lemari pertumbuhan (inkubator).

Setelah 4—6 minggu, kultur tunas telah tumbuh, selanjutnya dikeluarkan dari tabung reaksi. Media agar yang masih menempel dibersihkan dengan air mengalir. Tunas-tunas tersebut kemudian ditanam pada pot-pot yang telah diberi vermikulit atau perlitsebagai medianya. Letakkan pot-pot tersebut dalam sungkup plastik (green house). Agar tunas tumbuh secara optimal perlu dilakukan pemeliharaan berupa penyiraman dengan larutan yang mengandung hara Hoagland (lihat Tabel 4).

Tunas yang telah tumbuh baik dapat dipindahkan ke dalam polibag. Media yang dipergunakan berupa campuran tanah dan kompos dengan perbandingan 1 : 1. Polibag ini diletakkan dalam naungan paranet dengan intensitas cahaya sekitar 60%. Pemeliharan berupa penyiraman dilakukan hingga tunas menjadi bibit yang siap tanam, sekitar umur 4—6 bulan.

 

Baca Juga:  Produksi Pohon Kelapa Sawit Meningkat dengan Cara Ini

Sumber: Buku Kayu Jati Paduan Budi Daya dan prospek bisnis