Perbedaan Budidaya Jamur Secara Tradisional dan Modern

Pertanianku — Di Indonesia terdapat dua cara budidaya jamur yang lazim dilakukan oleh masyarakat, yaitu budidaya secara tradisional dan modern. Jamur merang sudah dibudidayakan sejak 1955. Sejak saat itu budidaya jamur terus mengalami perkembangan hingga saat ini terdapat beberapa cara budidaya jamur, yakni budidaya tradisional, modern, dan budidaya di dalam growth chambers.

budidaya jamur
foto: Pertanianku

Budidaya secara tradisional

Umumnya budidaya jamur secara tradisional dilakukan di luar kumbung dengan menggunakan lapisan ikatan jerami dalam bedengan yang digunakan sebagai media tumbuh. Teknik budidaya ini tidak membutuhkan biaya yang besar karena pembudidaya tidak perlu menyediakan rumah khusus untuk budidaya jamur. Biaya yang dikeluarkan hanya untuk membeli bibit dan lembaran plastik sebagai selubung media tumbuh.

Selubung media tumbuh yang terbuat dari plastik berguna untuk menjaga tingkat kelembapan di dalam meda tumbuh. Pembudidaya bisa menggunakan bekas karung beras untuk menggantikan plastik.

Teknik budidaya ini sangat mudah dan murah untuk dilakukan oleh semua orang di pedesaan. Namun, pelaksanaan budidaya perlu dilakukan di tempat yang luas.

Sayangnya, media tumbuh pada teknik ini lebih mudah terkontaminasi oleh hama dan penyakit seperti semut, tungau, tikus, bakteri, gulma jamur, dan cendawan lain.

Hasil produksi dari budidaya ini juga terbilang sedikit karena produksi jamur sangat bergantung pada cara mengatur dan memelihara tumpukan media dan pertanaman serta cara mengendalikan hama penyakitnya.

Budidaya secara modern

Budidaya jamur merang secara modern dilakukan di dalam rumah kumbung dengan menggunakan media tumbuh yang sudah dipasteurisasi pada rak-rak di dalam gubuk jamur. Penggunaan rumah kumbung sudah dimulai sejak 1970 dan sejak saat itu hampir seluruh budidaya jamur dilakukan di dalam rumah kumbung.

Baca Juga:  Perawatan yang Perlu Diberikan pada Tanaman Hidroponik

Teknik budidaya ini sangat dianjurkan untuk skala usaha. Akan tetapi, modal yang dibutuhkan cukup besar karena pembudidaya perlu membangun rumah kumbung dan generator penguap. Meski demikian, hasil yang didapatkan dari teknologi ini cukup menjanjikan sehingga pendapatan pembudidaya dapat meningkat lebih banyak.

Saat ini pembudidaya sering menyiasati permasalahan modal dengan memodifikasi bahan dan alat yang digunakan. Bangunan rumah kumbung atau jamur tidak dibuat permanen dengan semen atau bahan batu, tetapi cukup dibuat sederhana dari bambu sebagai rangka, plastik sebagai dinding, dan nipah sebagai atap.