Perbedaan Karet Alam dan Karet Sintetis

Pertanianku— Ada dua jenis karet yang terkenal sebagai bahan baku industri, yakni karet alam dan karet sintetis. Sebenarnya, tingkat produksi kedua jenis karet tadi hampir sama, meskipun jumlah produksi karet sintetis lebih besar. Karet alam dan sintetis memiliki pasar yang berbeda-beda. Jenis-jenis karet tersebut memiliki sifat saling melengkapi atau komplementer. Berikut ini perbedaan karet alam dan karet sintetis.

perbedaan karet alam
foto: pertanianku

Karet alam

Saat ini produksi karet alam berkurang jauh di bawah karet sintetis atau karet buatan pabrik. Namun, peran karet alam belum mampu digantikan oleh karet sintetis.

Sesuai dengan namanya, jenis karet ini berasal dari alam. Harga dan pasokan karet rentan mengalami perubahan harga, bahkan kadang-kadang harganya bergejolak, kadang naik drastis dan sebaliknya. Meskipun beberapa ahli mengatakan karet alam memiliki kelemahan dari sudut pandang kimia ataupun bisnisnya, permintaan karet ini tetap tergolong baik.

Ada beberapa industri yang punya ketergantungan terhadap pasokan karet alam, misalnya industri ban. Beberapa jenis ban radial memang dibuat dengan campuran karet sintetis, tetapi tetap saja jumlah karet alam yang digunakan lebih besar, sekitar dua kali lipat dari karet sintetis.

Ban-ban berukuran besar kurang baik bila mengandung karet sintetis yang lebih banyak. Oleh karena itu, kebutuhan karet jenis ini cukup besar untuk industri ban. Selain karena komposisinya yang lebih besar, produk yang dibuat juga berukuran besar.

Karet sintetis

Karet sintetis sebagian besar terbuat dari minyak bumi. Pengembangan jenis karet ini sudah dilakukan sejak zaman Perang Dunia II karena selama perang jumlah suplai karet alam tak mampu memenuhi seluruh permintaan industri. Saat ini ada banyak jenis karet sintetis yang dikenal. Ada yang tahan panas atau suhu tinggi, minyak, pengaruh udara, bahkan ada yang kedap gas.

Baca Juga:  Kiat Mengatasi Penyakit Gosong pada Tanaman Jagung

Karet sintetis yang berjenis NBR (Nytrile Butadiene Rubber) memiliki ketahanan yang tinggi terhadap minyak. Jenis ini biasanya digunakan dalam pembuatan pipa karet untuk bensin dan minyak, membran, seal, gasket, dan barang lain yang digunakan untuk peralatan kendaraan bermotor atau industri gas.

Selanjutnya, karet sintetis jenis CR (Chloroprene Rubber) tahan terhadap nyala api sehingga sering digunakan untuk pipa karet, pembungkus kabel, seal, gasket, dan sabuk pengikat.

Jenis terakhir karet sintetis adalah IR yang sering digunakan untuk membuat ban kendaraan bermotor, pembalut kawat listrik, serta pelapis bagian dalam tangki penyimpanan lemak atau minyak.