Permintaan Cacing Sutera Tanpa Batas


Pertanianku – Dewasa ini, cacing sutera telah menjadi pakan alami utama yang dibutuhkan, terutama bagi para breeder ikan hias dan konsumsi. Ironisnya, pemenuhan kebutuhan cacing sutera untuk kalangan breeder baru bisa terpenuhi sekitar 30%. Hal itu semakin diperparah dengan cacing sutera yang masih didominasi tangkapan alam. Kalaupun ada yang membudidayakan cacing sutera, metodenya masih tradisional dan belum mengarah komersial. Masih sedikitnya pembudidaya cacing sutera bukan disebabkan oleh faktor ‘tidak menguntungkan”. Permasalahan justru datang dari kurangnya informasi terpercaya yang benar-benar bisa diaplikasikan di lapangan.

Habitat Cacing Sutera

Melihat fakta kebutuhan cacing sutera yang cukup tinggi, ambil contoh di Yogyakarta, menurut data, permintaan cacing sutera di sana membutuhkan minimal 750 l per hari. Itu belum termasuk Jawa Tengah, Solo, dan daerah sekitarnya. Belum lagi untuk wilayah Jabodetabek, Jawa Timur (Pare—Kediri), dan Sukabumi yang notabene pusatnya breeder ikan. Tidak terhitung berapabanyak jumlah cacing sutera yang dibutuhkan. Permintaan cacing sutera yangseolah ‘tanpa batas’ ini, menjadikannya sangat prospektif untuk dibudidayakan, bahkan bisa dijadikan ladang bisnis yang berkelanjutan.

Sebagai sebuah pertimbangan, melalui Program Kementerian Kelautan dan Perikanan yang ingin meningkatkan Produksi Perikanan hingga 353% sampai dengan tahun 2014. Secara otomatis, benih ikan yang dibutuhkan juga akan semakin tinggi. Tentu saja, kebutuhan cacing sutera juga semakin banyak.

Data kebutuhan benih lele mengalami peningkatan pesat dari 156 juta ekor pada tahun 1999 menjadi 360 juta ekor pada tahun 2003. Bahkan, kebutuhan benih lele sampai tahun 2013 bisa mencapai 3 miliar ekor. Pada tahun 2012, untuk produksi benih ikan secara keseluruhan, Bandung mampu memproduksi hingga 1,3 miliar ton benih dari 1,2 miliar ton yang ditargetkan.

Baca Juga:  Tertarik untuk Ternak Ayam Kampung? Ikuti Langkah Mudah Ini!

Pada tahun 2011, produksi ikan mencapai 1,1 miliar ton dan pada tahun 2013 ditargetkan produksi benih ikan mencapai 1,361 miliar ton (Ginanjar, 2013). Jumlah produksi ini tentu menjadi peluang bisnis yang menggiurkan untuk memulai bisnis cacing sutera.

Sebagai gambaran, akan ditunjukkan aplikasi kebutuhan cacing sutera untuk memenuhi kebutuhan benih lele di Indonesia yang bisa mencapai 3 miliar ekor.

  • Diasumsikan dalam satu kali pemijahan, dapat dihasilkan rata-rata 50.000 ekor benih lele.
  • Jumlah benih lele sebanyak 50.000 ekor membutuhkan cacing sutera sebanyak 20 liter.
  • Kebutuhan Tubifex pada tahun 2013 sebanyak (3.000.000.000 : 50.000) X 20 l = 1.200.000 l.
  • Jika harga cacing sutera per liter Rp15.000,00, nominal penjualan cacingsutera adalah sebagai berikut. 1.200.000 l x Rp15.000,00 = Rp18.000.000.000,00 (18 miliar rupiah).

Dari asumsi di atas, untuk ikan lele saja dibutuhkan 1,2 juta liter Tubifex dengan nilai transaksi sebesar 18 miliar rupiah. Angka yang cukup fantastis bukan? Belum lagi untuk memenuhi kebutuhan benih ikan lainnya seperti mas, koi, gurami, patin, bawal, dan ikan-ikan hias lainnya. Berdasarkan hal tersebut, masihkah Anda melihat cacing sutera sebagai sesuatu yang “menjijikkan”?

 

Sumber: Buku Cacing Sutera

loading...
loading...