Pertambangan Mencengkeram Kepulauan Rempah dan Perikanan


Pertanianku — Maluku Utara (Malut) terkenal sebagai kepulauan rempah seperti pala dan cengkih, serta daerah maritim dengan potensi perikanan yang cukup bagus. Akan tetapi, bisnis yang berkembang malah pertambangan. Artinya, pertambangan mencengkeram kepulauan rempah dan perikanan sangat erat.

pertambangan mencengkeram kepulauan rempah dan perikanan
Google Image

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Malut mencatat, dari luas Malut 145.801,1 kilometer persegi, ada 313 izin usaha pertambangan menguasai 1.123.403,73 hektare wilayah. Kehadiran pertambangan ini telah menimbulkan banyak masalah seperti konflik lahan di daerah sekitar tambang sampai kerusakan lingkungan.

Akademisi Universitas Khairun Ternate, Janib Ahmad, mengatakan, masyarakat terutama nelayan dan petani di Malut sudah harus tahu kekuatan korporasi perusak lingkungan dengan lembaga keuangan penyedia pendanaan.

“Peran bank punya korelasi terhadap pengelolaan sumber daya alam eksploitatif. Investasi ekonomi korporasi yang eksploitatif itu secara ekonomis tak menguntungkan bahkan tak layak karena ia (perusahaan-red) menguras sumber alam terutama air. Menguras lingkungan, hutan dan ekosistem lain,” katanya, dikutip dari Mongabay, Senin (27/11).

Janib mengungkapkan, struktur perekonomian Malut dalam produk domestik regional bruto (PDRB) bukan dibangun dari pertambangan. Melainkan pertanian, kehutanan, dan perikanan sekitar 24%, justru kontribusi pertambangan hanya 8%.

BPS Malut 2016 mencatat, usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan berkontribusi 24,96%, sedangkan pertambangan dan penggalian dari 2012 hanya 5,13% sampai 5,39%.

Berdasarkan data Walhi Malut 2012, luas hutan Malut 2.519.623,91 hektare,  dari luas daratan 3.151.277 hektar atau 79,82%. Ia terbagi dalam pinjam pakai kawasan hutan untuk kegiatan pertambangan 76.800,51 hektare, hutan konservasi 218.499 hektare, hutan lindung 584.058 hektare, dan hutan produksi 1.712.663 hektare.

Lalu, hak penguasaan hutan 565.594 hektare, dan hutan tanaman industri 67.684 hektare. Sementara, perairan Malut mencapai 100.731,44 kilometer persegi.

Baca Juga:  Petugas Gabungan Temukan Sarden Tak Layak Konsumsi

Menurut Janib, pemerintah seharusnya juga fokus membangun kelautan di provinsi dengan 395 pulau, 64 berpenghuni, dan 331 belum ada penghuni ini. Sebab, potensi ekonomi kelautan di Indonesia mencapai US$1,333 triliun per tahun atau tujuh kali lipat APBN 2016.

Malut, dalam segitiga terumbu karang (the coral triangle region) memiliki potensi perikanan menguntungkan. Malut juga salah satu paru-paru bumi karena memiliki 600 spesies karang dari 75% jenis terumbu karang, 3.000 jenis ikan, dan tempat pemijahan ikan terbesar di dunia.

“Jadi, tambang bukan sumber pendapatan utama bagi Malut,” tukas Janib.

loading...
loading...