Pertumbuhan dan Produksi pada Agroklimat Kritis

Pertanianku   Pada akhir 1970-an, negara-negara penghasil karet alam mengembangkan kawasan penanaman karet. Pengembangan tersebut sebagai jawaban terhadap meningkatnya permintaaan, mengompensasi diversifikasi tanaman pada kawasan tradisional, dan memperbaiki standar hidup petani. Klonklon karet unggul yang sudah dilepas menunjukkan adaptasi spesifik terhadap kawasan yang suboptimal. Korelasi yang sangat negatif nyata antara hasil dengan suhu minimum, kecepatan angin, dan evaporasi di seluruh klon yang ditanam di Tripura (India), suatu kawasan yang sangat kritis dari aspek curah hujan dan suhu.

Perbedaan Karet Alam dengan Karet Sintetis

Negara bagian Tripura di sebelah timur laut India di 22—24º Utara, 91—92º timur khatulistiwa merupakan kawasan non-tradisional perkebunan karet di India. Terdapat dua kontras kondisi lingkungan pada wilayah itu, yakni kontras I terjadi dari Mei hingga September (lingkungan yang suboptimal) dan kontras II terjadi pada bulan Oktober hingga Januari (lingkungan optimal). Disimpulkan bahwa RRIM 600 dinilai merupakan klon yang memiliki adaptasi universal dengan hasil yang sedang pada lingkungan suboptimal. Adaptasi spesifik dari 15 klon karet yang dinilai pada wilayah itu menunjukkan terdapat perbedaan dalam respon terhadap perubahan cuaca pada klon RRII 203, RRIM 703, dan PB 235. Klon-klon tersebut menunjukkan kecenderungan hubungan negatif dengan menaiknya kecepatan angin dansuhu minimum.

Loading...

Indonesia juga memiliki pengalaman pengelolaan perkebunan karet di kawasan suboptimal, yakni di Langga Payung (Sumatera Utara) dengan deskiripsi lokasi 25 m dpl. Bahan induk tanah hanya sedikit sekali mengandung mineral cadangan sehingga tanah yang terbentuk mempunyai potensi kesuburan tanah yang rendah. Tanah 60% fraksi pasir dengan warna tanah cokelat kekuningan, tekstur pasir berlempung, tidak berstruktur, konsistensi sangat lepas, basa dapat ditukar rendah, KTK sangat rendah, daya serap air rendah, dan pH tanah rendah. Setelah 15 tahun, ternyata kepadatan pohon sangat tinggi atau 412 pohon/ha, serangan jamur akar putih (JAP) rendah akibat pH tanah asam. Pengamatan menunjukkan bahwa pertumbuhan yang paling besar diperoleh pada klon PR 261. Produktivitas Hevea brasiliensis di wilayah marginal itu terhitung tinggi, yaitu 1.865 kg/ha/ tahun pada klon GT 1. Analisis tanah bahkan menunjukkan keadaan hara yang mengalami perubahan, yakni dengan peningkatan C/N dan P tersedia dan nilai tukar kation (NTK). Pengalaman ini membuktikan bahwa tanaman karet memiliki potensi sebagai tanaman yang dapat memperbaiki lingkungan marginal. Dengan kata lain, dari aspek ekologi, tanaman karet sangat menguntungkan.

Baca Juga:  Serat Pohon Pisang Abaka, Sumber Serat Alami yang Terkenal di Pasar Ekspor

 

Sumber: Budidaya dan Teknologi Karet

Loading...
Loading...