Petambak Sebut Penyerapan Garam oleh Industri Cenderung Menurun

Pertanianku — Persatuan Petambak Garam Indonesia (PPGI) menyebut, intensitas penyerapan garam oleh industri cenderung menurun di tahun ini. Industri yang dimaksud, yakni industri aneka pangan.

penyerapan garam oleh industri cenderung menurun
Foto: Pexels

Sekretaris Jenderal PPGI, Waji Fatah Fadhilah mengatakan, pada periode Juni—Juli 2019, belum ada perusahaan industri yang melakukan penyerapan garam lokal. Hal itu terutama terjadi di sentra-sentra garam wilayah Jawa Barat. Akibatnya, petambak baru sekadar mengandalkan penjualan untuk mereka yang membutuhkan garam konsumsi masyarakat.

“Biasanya kita persiapan panen di bulan Mei, lalu bulan Juni—Juli sudah mulai banyak perusahaan yang datang. Nah, tahun ini belum ada,” katanya seperti dilansir Republika, Minggu (7/7).

Loading...

Menurutnya, dalam kondisi normal pada Juni—Juli, garam milik petambak dibeli oleh industri sekitar 15—20 persen dari total produksi kelompok petambak. Oleh karena itu, salah satu penyebab rendahnya harga, yakni karena tidak adanya penyerapan itu.

“Tahun lalu penyerapan itu selalu berkelanjutan sepanjang tahun. Ini sudah ratusan petambak yang panen belum ada,” ujar dia menegaskan.

PPGI mencatat, biaya produksi garam per kilogramnya sekitar Rp350. Namun, harga garam di tingkat petambak hanya Rp400 per kilogram (kg). Rendahnya harga terjadi di sentra garam wilayah Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Sementara, rata-rata harga garam di Nusa Tenggara Barat masih sekitar Rp600—700 per kg.

Namun, pihak Waji pun memaklumi, penyerapan garam petambak baru dilakukan oleh sektor industri aneka pangan karena tingkat kualitas garam yang belum memenuhi kriteria industri selain aneka pangan. Hal itu dikarenakan sistem pembuatan atau produksi garam saat ini masih tradisional.

Sebelumnya, Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) menjelaskan, penyerapan garam lokal oleh industri saat ini memang baru dilakukan oleh sektor aneka pangan. Hal itu membuat penyerapan garam milik petambak untuk kebutuhan industri di Tanah Air belum dapat maksimal.

Baca Juga:  Seluas 141,6 Hektare Hutan Gunung Rinjani Terbakar

Industri sektor lain perlu dilibatkan oleh pemerintah agar dapat menggunakan garam lokal. Namun, jika hal itu belum dapat dilakukan dengan alasan kualitas garam lokal yang belum memenuhi standar, ada baiknya agar ada proyek percontohan yang melibatkan petambak untuk menghasilkan garam berkualitas.

Loading...
Loading...