Petani Bawang Diimbau Terapkan Manajemen Pascapanen


Pertanianku – Di Indonesia nasib para petani masih sangat memprihatinkan, bahkan kesejahteraan petani di Indonesia sangat buruk. Ketika musim tanam, harga bibit dan pupuk sangat tinggi, sedangkan pada musim panen harganya bisa anjlok. Untuk itu, pemerintah terus mengupayakan dan mengimbau petani untuk memperbaiki sistem pascapanen.

Mantan Menteri ESDM, Sudirman Said, sudah lama ingin mengajak para petani memperbaiki manajemen pascapanen. “Situasi seperti ini harus diakhiri. Petani harus mendapat keuntungan yang layak,” kata Sudirman saat panen bawang di Dukuh Siramin, Desa Slatri, Brebes, Jawa Tengah, baru-baru ini seperti mengutip Republika (25/7).

Sudirman mengatakan bahwa ia yang sejak kecil tinggal di desa, persoalan petani bawang masih sama. Yakni keterbatasan kemampuan keuangan, akses pasar, dan penanganan pascapanen. Akibatnya, ketika panen serentak, harga turun tapi mereka terpaksa harus menjual hasil panennya.

“Para petani bukannya untung malah buntung. Sekarang ini banyak yang mendapat keuntungan pihak-pihak yang tidak terlibat dalam proses penanaman,” katanya.

Untuk itu, sejak tahun lalu, Sudirman bekerja sama dengan para petani di desa kelahirannya menanam bawang dan cabai. Ia dibantu para sahabat yang menyediakan modal kerja, termasuk biaya sewa lahan. Seperti yang diketahui, biaya sewa lahan pertanian di Indonesia cukup mahal. Untuk itu, para petani perlu pembinaan dan pinjaman modal.

Dalam kesempatan tersebut Sudirman mengungkapkan, agar ketika harga rendah jangan buru-buru menjual hasil panennya agar bisa memperoleh keuntungan yang memadai. “Kalau bawang kita keringkan dan simpan dengan baik, kualitasnya terjaga, dan jumlahnya cukup banyak kita bisa buka akses pasar langsung kepada pengguna akhir,” tambahnya.

Hasil diskusi dangan petani dan sejumlah tokoh masyarakat di Brebes, mata rantai pasokan dari petani ke pembeli akhir bisa melalui enam sampai delapan perantara. Akibat panjangnya rantai distribusi harga yang dinikmati petani kadang-kadang hanya setengah dari harga jual kepada pembeli terakhir.

Baca Juga:  Ragam Ikan Hias Tanah Air Jadi Perhatian Pemerintah

“Saya akan mendorong petani membuat kelompok atau koperasi. Kalau ada badan hukum bisa kita bantu mendapatkan permodalan, supaya biaya tanam dan biaya hidup bisa didukung selama masa masa sulit menunggu panen atau menungggu harga bagus,” ungkapnya.

Jumlah usaha pertanian bawang di Brebes kurang lebih 220 ribu, sebagian besar merupakan usaha rumah tangga. Sedikit sekali yang merupakan usaha berbadan hukum. Ini membatasi ruang gerak dan akses modal. Luas lahan pertanian di Brebes dari hasil sensus terakhir 166 ribu hektare. Kemungkinan sudah makin menyempit.

Pada 2010 saja, produksi bawang merah Kabupaten Brebes mencapai 400.501 ton, atau 79,09 persen dari total produksi bawang merah di seluruh wilayah Jawa Tengah yang jumlahnya 506.357 ton. Terhadap produksi bawang nasional yang jumlahnya 1.048.934 ton, Brebes menyumbangkan 38,18 persen dari total produksi nasional.

loading...
loading...