Petani Cabai Kulonprogo Manfaatkan Lahan Pasir

Pertanianku — Budidaya cabai umumnya menggunakan media tanam tanah. Namun, pernahkan Anda menemukan penanaman cabai di lahan berpasir, seperti pantai? Hal tersebut bukan menjadi sesuatu yang mustahil bagi petani cabai Kulonprogo. Mereka melakukan penanaman cabai di sepanjang Pantai Parang Trisik.

petani cabai Kulonprogo
Foto: Pixabay

Dirjen Hortikultura, Prihasto Setyanto menyambangi area pertanaman cabai di pantai Parang Trisik. Di sana tumbuh subur aneka cabai rawit varietas Hilux. Kendati tumbuh di lahan berpasir, 1 pohon bisa menghasilkan 2 kg cabai. Ini merupakan hal yang cukup menggembirakan.

“Ini sudah 12 kali panen, pak. Hasilnya bagus dan ukuran buahnya besar-besar. Tiap harinya kami bisa kirim hingga ke lima titik di Jakarta. Pokoknya hasilnya berlimpah,” ujar Ketua Kelompok Tani Sidodadi Ngatimin, seperti dilansir Republika.

Loading...

Dirjen yang akrab dipanggil Anton itu melihat satu per satu tanaman dengan penuh antusias. Ia seakan tak percaya menyaksikan cabai memenuhi lahan yang hampir sulit ditanami.

“Ini luar biasa ya, dengan bermodalkan pupuk kandang kotoran ayam dan air, cabai bisa tumbuh subur di sini. Bahkan bisa mengisi pasar Jakarta,” katanya.

Ngatimin juga bercerita bahwa umur tanaman cabainya dalam 75 hari sudah dapat dipanen. Menurutnya, petani sekitar juga disiplin untuk mengganti komoditas tanamannya apabila sudah 12—15 kali panen. Mereka sangat menjaga komitmen ini sebagai upaya memutus siklus hama. Tak hanya bertanam, Ngatimin bersama petani lain juga mengembangkan benih lokal. Upaya ini dilakukan agar petani mandiri dan tidak ketergantungan produksi benih yang dijual di pasaran.

Tak jauh jauh dari areal Ngatimin, Anton kemudian menyambangi petani yang tengah menyirami tanamannya. Secara spontan dirinya mencicipi air yang digunakan untuk menyiram sebidang lahan itu dan ajaibnya air tersebut tidak asin.

Baca Juga:  Ekspor Talas Tembus ke Jepang, Sulsel Tingkatkan Produksi

“Kembali kita harus bersyukur. Di lahan yang 10 tahun lalu terbengkalai, tumbuh subur cabai. Mulai dari cabai rawit hingga cabai keriting. Airnya pun berlimpah dan meski dekat bibir pantai, ini air tawar,” tuturnya.

Seperti dikatakan para petaninya, pengelolaan lahan berpasir untuk tanam cabai tidaklah sulit. Pasir cukup diberi pupuk kandang sebagai unsur hara dan memperhatikan jadwal penyiraman. Untuk tanaman cabai rawit, penyiraman dilakukan tiap tiga hari sekali. Sementara untuk cabai keriting atau cabai besar, penyiraman dilakukan setiap hari.

“Saya terharu, anugerah Allah ternyata luar biasa, lahan berpasir yang sangat miskin unsur hara ternyata bisa bermanfaat buat masyarakat disekitar sini,” ujar Anton.

Loading...
Loading...