Petani Indonesia Patut Disebut Pahlawan Pangan


Pertanianku — Dekan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Ali Agus menilai, petani Indonesia sangat layak disebut sebagai pahlawan. Bagaimana tidak? Menurutnya, sudah bisa selamat menggeluti pertanian kini saja sudah sangat hebat.

petani Indonesia
Foto: Google Image

“Petani tanaman pangan, padi khususnya, itu sangat luar biasa, mereka sudah mulai tidak untung tapi masih setia,” kata Ali seperti dikutip Republika, Minggu (11/11).

Saat ini, pertanian dinilai semakin ditinggalkan. Bahkan, kelahiran banyak fakultas pertanian di perguruan-perguruan tinggi Indonesia, masih belum mampu mengembalikan minat masyarakat untuk berkarier di dunia pertanian.

Indonesia masih menagih mimpinya sendiri, yaitu swasembada pangan. Terlebih, potensi Indonesia mewujudkan itu sebenarnya sangat besar. Sayangnya, untuk pertanian saja, jumlah lahan ataupun petaninya semakin tergerus zaman.

Kondisi itu menjadi ironi, mengingat profesi mereka merupakan penyangga pangan seluruh rakyat Indonesia. Menurut Ali, itu merupakan salah satu efek besarnya ‘politik perberasan’ Orde Baru.

Ali berpendapat, politik itu membuat sebagian besar masyarakat Indonesia hanya mengenal beras sebagai panganan pokok. Sayangnya, ketergantungan itu tidak terjadi seiring dengan peminat di dunia pertanian. Salah satu penyebabnya lantaran lahan pertanian dirasa tidak lagi memberikan insentif. Selain itu, ia merasa langkah-langkah politik mengalami salah arah dalam pembangunan pertanian.

Bagi Ali, agribisnis sejak Era Reformasi seolah dijadikan pemerintah sebagai mazhab pertanian di Indonesia. Namun ia menilai, mazhab itu sangat tidak cocok diterapkan di Indonesia. Sebab, agribisnis bisa berhasil diberlakukan jika negara-negara tersebut miliki lahan yang cukup luas. Selain itu, agribisnis bisa diterapkan optimal jika teknologi mekanisasi benar-benar ada di genggaman.

“Jika begitu baru bisa dilakukan, lihat saja bantuan-bantuan mesin pertanian belakangan ini, tidak banyak bisa digunakan, saya cenderung oposisi ketika agribisnis dijadikan mazhab pembangunan pertanian, saya tidak sependapat,” ujar Ali.

Baca Juga:  Ekspor Subsektor Peternakan di 2018 Meningkat Tajam

Ia mengaku lebih setuju dengan penerapan agrikultur. Artinya, ada interaksi antara orang, wilayah, lingkungan, dan kebiasaan yang berlaku. Di Kabupaten Gunungkidul misalnya, jika banyak ketela, yang dikembangkan seharusnya ketela.

Pengembangan tak hanya diberlakukan dalam produksinya. Sebab, pengembangan bisa dilaksanakan dengan mengombinasikannya dengan kacang-kacangan, atau lauk-laukan pendampingnya ketika dimakan seperti gereh atau ikan asin.