Petani Milenial Raup Omzet Rp100 Juta per Bulan di Tengah Pandemi Covid-19

Pertanianku — Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo beberapa waktu lalu giat melakukan sosialisasi untuk membangkitkan semangat juang para milenial untuk turut serta hadir membangun pertanian bangsa Indonesia dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang sudah dikuasai. Agitya Kristantoko, anak muda asal Bojonegoro, alumnus peserta sertifikasi kompetensi bidang Pengolahan Hasil Pertanian merupakan pengusaha muda pemilik Omah Menyok.

milenial
foto: pixabay

Kini, Agitya Kristantoko yang akrab dipanggil Tyo menjadi Asesor Kompetensi di Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Pertanian, Pusat Pelatihan Pertanian, Kementerian Pertanian. Usaha yang dirintisnya merupakan usaha olahan makanan ringan yang menggunakan singkong sebagai bahan bakunya.

Usaha Tyo yang sekaligus menjadi tempat pelatihan dan Agrowisata Edukasi Kuliner Omah Menyok di Jawa Timur sudah memproduksi 155 jenis olahan dari singkong, seperti rengginang singkong, keripik singkong, dan olahan makanan ringan lainnya dengan packaging yang menarik.

Loading...

Merek dagang usaha Tyo adalah ‘Gading’ dan sudah dipatenkan di Kemenkumham. Produk yang dihasilkan Tyo dipasarkan di galeri produk olahannya, beberapa toko swalayan terkenal, pusat perbelanjaan, dan marketplace.

Sejak 2004  hingga 2018, Tyo bersama ibunya, Kristianingsih yang merupakan Ketua Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya Gading sudah menyabet 11 penghargaan, baik penghargaan individu maupun lembaga di bidang pertanian, baik di tingkat kabupaten, provinsi maupun tingkat nasional. Bahkan, Tyo akan menjadi Duta Petani Milenial yang akan dikukuhkan oleh Kepala Badan Penyuluh dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) pada Senin mendatang.

Dari usaha dan lembaga edukasi yang sudah dirintisnya ini, Tyo bisa mendapatkan omzet sekitar Rp75—Rp100 juta per bulan. Menurut Tyo, keuntungan yang didapatkannya belum seberapa dibandingkan dengan kepuasan yang bisa dia dapatkan saat memberikan pendampingan, pelatihan, dan bimbingan kepada petani, kelompok wanita tani, mahasiswa, siswa sekolah, dan masyarakat lainnya.

Baca Juga:  Kementan Resmi Bekerja Sama dengan Bukalapak

“Saat ini generasi muda di sektor pertanian sudah mulai bertumbuh dan semakin banyak meskipun kita tahu di era milenial seperti ini, sektor ekonomi kreatif lebih banyak dipilih sebagai opsi oleh generasi muda daripada sektor pertanian,” ujar Tyo seperti dikutip dari laman pertanian.go.id.

Tyo meyakinkan kepada para milenial bahwa pertanian Indonesia sebenarnya memiliki masa depan yang gemilang dan berpotensi untuk terus dikembangkan oleh anak muda.

“Bukankah orang terkaya di Indonesia juga menekuni bidang pertanian, seperti tembakau. Lalu, kenapa harus ragu untuk terjun dalam sektor pertanian,” katanya.

Dengan ilmu yang dimiliki, para milenial dapat melewati berbagai rintangan yang tengah dihadapi seperti masa pandemi Covid-19. Selain itu, saat ini sudah memasuki era revolusi industri 4.0 di mana segala aktivitas industri sudah dilakukan melalui digital, termasuk penjualan dan distribusi produk pangan. Tentunya, ini cocok dengan karakter para milenial.

Loading...
Loading...