Petani Minta Pemerintah Kurangi Impor Komoditas Pangan

0

Pertanianku – Para petani yang tergabung dalam Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) meminta pemerintah untuk tak lagi mengeluarkan izin impor komoditas pangan. Hal tersebut disampaikan dalam salah satu poin yang telah diusulkan oleh Pekan Nasional KTNA untuk pemerintah.

Ketua KTNA Indonesia Winarno Tohir mengatakan, saat ini produksi pangan nasional sudah bisa mencukupi kebutuhan penduduk. Terjadi peningkatan produksi yang luar biasa lantaran dampak penggunaan benih hibirida, mekanisasi pertanian, dan peningkatan infrastruktur. “Karena itu, kami meminta Kementerian Pertanian tidak memberikan rekomendasi impor beras, cabai, bawang merah, jagung dan selanjutnya impor dikurangi secara bertahap untuk kedelai, gula, daging, dan lainnya,” kata Winarno, sebagaimana melansir Antaranews (9/5).

Untuk padi, petani sudah berhasil meningkatkan rata-rata produktivitas per hektare dari 5,12 ton gabah kering giling (GKG) menjadi 5,2 ton GKG. Dengan peningkatan produktivitas tersebut, saat ini keamanan pangan komoditas utama makanan pokok penduduk Indonesia bisa dibilang sangat aman. Gudang-gudang Bulog dipenuhi beras petani dan juga tidak ada pasar yang kekurangan pasokan, begitu juga dengan jagung.

Menurutnya, Indonesia sudah bisa memproduksi jagung mencapai 11,8 ton hektare. Padahal, sebelumnya rata-rata produktivitas jagung nasional hanya 5—6 ton per hektare. Melonjaknya produksi jagung tak lain karena penggunaan benih hibrida dan penggunaan alat mesin pertanian modern.

“Jadi ke depan kami yakin swasembada jagung bisa terwujud dengan ada peningkatan produksi ini. Kalau tadi produksi 5 ton per hektare meningkat jadi 8 ton saja, maka kita tidak perlu impor lagi,” jelas Winarno.

Terkait komoditas jagung, Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam sambutannya saat membuka acara Penas XV KTNA di Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya, Banda Aceh, menceritakan, dua tahun lalu ia sempat dimarahi petani jagung saat melakukan kunjungan kerja ke Magetan, Jawa Timur, dan Dompu, Nusa Tenggara Barat. Alasannya, petani tidak bisa menjual panen jagung dengan harga yang baik.

“Petani marah mengenai harga jagung saat itu yang cuma Rp1.500—Rp1.700 per kg. Petani marah. Pak, kami rugi gede. Pak, kita rugi besar. Ini karena harga jatuh dan impor besar,” kata Jokowi.

Setelah dimarahi petani itu, Jokowi mengaku langsung mengecek importasi jagung kepada para menterinya. Saat itu, menurut Jokowi, impor jagung memang masih relatif besar, yakni mencapai 3,6 juta ton. Karena itu, Jokowi langsung memerintahkan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman agar menyusun rencana tanam dan peningkatan produksi jagung dalam lima tahun ke depan. Targetnya, tidak boleh ada impor jagung lagi pada 2019.

Sambil meminta peningkatan produksi, setahun berikutnya sejak mendengar keluhan petani jagung, Jokowi mengeluarkan instruksi presiden mengenai harga jagung. Harapannya, para petani yang masih menanam jagung terus menanam jagung lantaran keuntungannya terjaga. “Saya kasih harga Rp2.700 per kg dalam keadaan basah. Dengan dipaksa harga seperti itu, petani bergairah karena menguntungkan,” kata Presiden.

Jokowi mengatakan, pada ajang Penas XV KTNA di Aceh, Presiden meminta Mentan memberikan laporan mengenai impor jagung. Presiden mengaku bangga karena jumlah impor jagung per akhir 2016 menurun drastis. Jumlah impor jagung per akhir 2016 tersisa 900 ribu ton alias berkurang 2,7 juta ton dalam kurun waktu dua tahun. Dengan fakta tersebut, Jokowi meyakini Indonesia bisa mempercepat swasembada jagung dan tidak lagi impor pada tahun ini.

loading...
loading...