Petani Perlu Menguasai Teknologi Pascapanen yang Benar

Pertanianku — Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto, terus berupaya mendorong pertumbuhan UMKM untuk meningkatkan nilai tambak produk hortikultura. Hal tersebut sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo yang meminta untuk meningkatkan pertanian menjadi maju, mandiri, dan modern. Salah satu bagian penting yang menjadi perhatian adalah teknologi pascapanen.

pascapanen
Foto: Pixabay

“Dalam penumbuhan UMKM hortikultura, kami mendukung dengan menyediakan fasilitas sarana dan prasarana pascapanen, meningkatkan diversifikasi hasil olahan, kemitraan dengan berbagai stakeholder, promosi, dan pemasaran. Termasuk peningkatan kapabilitas melalui bimbingan teknis,” tutur Prihasto seperti dilansir dari laman hortikultura.pertanian.go.id.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura, Bambang Sugiharto, mengimbau, penerapan GAP (Good Agricultural Practices) hortikultura untuk mendorong pertumbuhan UMKM. Termasuk juga praktik tata kelola budidaya dan pascapanen hortikultura yang baik.

“Indo GAP dalam Permentan Nomor 22 tahun 2021 tentang praktik hortikultura yang baik, termaktub landasan aturan budidaya yang baik. Hal ini untuk menghasilkan produk pangan yang aman dikonsumsi, bermutu, ramah lingkungan, dan juga berdaya saing,” terang Bambang.

Penanganan pascapanen buah yang perlu dilakukan adalah pengendalian respirasi dan transpirasi (suhu dan RH). Pengendalian tersebut menjadi kunci untuk mempertahankan kualitas buah sehingga umur simpan menjadi lebih lama. Semakin lama umur simpan, semakin kecil risiko kerugian.

“Seperti yang kita ketahui, produk hortikultura itu mudah rusak dan masa simpan pendek. Oleh karena itu, kita harus memperhatikan penanganan pada pascapanennya,” ujar Peneliti Balai Besar Penelitan dan Pengembangan Pascapanen, Siti Mariana Widiyanti.

Ketua Mitra Tani Unggul, Asroful Uswatun, mencontohkan, penanganan pascapanen buah naga yang benar harus menggunakan keranjang khusus. Keranjang tersebut berguna mencegah buah dari kerusakan.

“Selain itu, melakukan penataan yang baik dengan meletakkan buah pada satu arah. Pengemasan buah naga dengan bobot maksimal 12 buah atau 5 kg harus seragam. Penyimpanan dilakukan pada ruang pendingin atau cold storage. Untuk melakukan ekspor ke Eropa yang memiliki estimasi perjalanan 5–7 hari, tingkat kematangan buah naga yang cocok, yaitu 65 persen,” pungkas Asroful.

Baca Juga:  Teknologi Adaptasi dan Mitigasi untuk Menghadapi Perubahan Iklim