Petani Tebu Terjerat Pajak


Pertanianku – Dewi Keberuntungan sepertinya belum menghampiri para petani tebu. Bahkan, nasib petani tebu di wilayah Jawa Barat semakin terpuruk. Hal ini karena adanya kebijakan penerapan Pajak Penghasilan (PPh) kepada para petani tebu untuk gula milik mereka yang dibeli oleh Bulog.

“PPh-nya1,5 persen untuk petani tebu yang memiliki NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) dan tiga persen untuk petani tebu yang tidak memiliki NPWP,” terang Sekretaris DPD Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Jabar, Haris Sukmawan seperti melansir Republika (19/10).

Ia menyatakan, penerapan PPh itu membuat nasib para petani tebu yang sudah menderita jadi semakin terpuruk. Mereka pun ibarat memakan buah simalakama dalam penjualan gula milik mereka sendiri.

“Kalau tidak dijual, gula menumpuk sudah lama dan petani butuh modal untuk biaya tanam selanjutnya. Tapi kalau dijual ke Bulog, kena PPh 1,5 persen dan tiga persen,” tutur pria yang disapa Wawan.

Sebagai informasi, ribuan ton gula milik petani tebu di Jabar tak laku terjual dan hanya menumpuk di gudang milik pabrik gula. Selain diduga akibat maraknya gula impor, hal itu juga terjadi karena pedagang gula enggan membelinya akibat adanya kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 10 persen untuk gula.

Setelah petani berjuang, PPN 10 persen akhirnya ditangguhkan. Pemerintah pun membuat kebijakan bahwa gula petani hanya bisa dibeli oleh Bulog. Hal itu didasarkan pada surat dari Menko Perekonomian Nomor S-202/M.EKON/08/2017 yang menyatakan selama musim panen 2017, gula milik petani dan pabrik gula BUMN dibeli Bulog dengan harga Rp 9.700 per kg.

Surat Menko itu pun ditindaklanjuti dengan surat Menteri Perdagangan Nomor. 885/M-DAG/SD/8/2017 tentang Pembelian dan Penjualan Gula oleh Perum Bulog. Dengan adanya aturan itu, petani tidak bisa menjual gulanya ke pedagang.

Baca Juga:  Kementan Tanam Bawang Putih di Tiga Lokasi Secara Serempak

Padahal, harga pembelian Bulog yang hanya Rp9.700 per kg itu lebih rendah dibanding harga eceran tertinggi (HET) yang mencapai Rp12.500 per kg. Meski begitu, petani tebu yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Jabar tetap menerimanya. Sementara, petani tebu yang tergabung dalam Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Jabar menolak kebijakan tersebut.

Wawan mengakui, kementerian terkait akhirnya membolehkan gula petani juga dibeli oleh pedagang selain Bulog. Namun, pedagang tersebut harus merupakan mitra Bulog dan tergabung dalam Asosiasi Pedagang Gula Indonesia (APGI).

loading...
loading...