Pokdakan Kabupaten Pasaman Raih Omzet Miliaran Rupiah dari Budidaya Ikan Air Tawar

Pertanianku — Plt. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Tb. Haeru Rahayu menjelaskan potensi budidaya ikan air tawar di Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat sangat besar. Oleh karena itu, daerah tersebut diharapkan bisa menjadi salah satu percontohan Kampung Perikanan yang berbasis kearifan lokal di Sumatera Barat.

budidaya ikan air tawar
foto: Pertanianku

“Produksi perikanan budidaya harus terus kita kembangkan guna memenuhi kebutuhan pangan dan menggerakkan ekonomi nasional. Untuk itu, penting adanya pengembangan program-program yang sesuai untuk daerah. Salah satunya Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat ini, pada tahun 2020 volume produksi mampu mencapai sekitar 54,5 ribu ton dengan nilai sekitar Rp1 triliun,” papar Tb. Haeru Rahayu seperti dikutip dari laman kkp.go.id.

Tb. Haeru menjelaskan bahwa Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono sempat mengunjungi kabupaten tersebut dan mengaku sangat tertarik dengan geliat budidaya ikan air tawar di sana.

Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Saiyo Saolo telah memiliki 18 kolam raksasa dan membudidayakan ikan mas. Produktivitas kelompok ini mencapai 10 ton per kolam per siklus. Satu siklus budidaya mampu menghasilkan hingga Rp4,7 miliar dengan 3 kali panen dalam 1 tahun sehingga kelompok tersebut dapat menghasilkan sekitar Rp15 miliar.

Ketua Kelompok Saiyo Saolo, Ateng menceritakan bahwa kelompoknya memiliki kolam dengan rata-rata luas 1 hektare dan telah membudidayakan ikan mas selama lima tahun. Masa pemeliharaan 4 bulan dengan padat tebar per kolam mencapai 25 ribu ekor. Panen dilakukan saat ukuran ikan mencapai 1 kilo isi 2—3 ekor ikan mas. Harga ikan mas di pasaran saat ini sekitar Rp24 ribu hingga Rp26 ribu. Ikan-ikan tersebut dipasarkan ke Riau, Jambi Bengkulu, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Baca Juga:  Pengolahan Kolam yang Tepat untuk Ikan Patin

“Potensi ini bisa lebih besar jika terus dikembangkan. Oleh karenanya, diharapkan selalu berupaya keras untuk terus mengembangkan potensi yang ada di sana. Nantinya melalui kampung-kampung perikanan budidaya di Kabupaten Pasaman, diharapkan juga akan memberikan dampak positif terhadap pendapatan masyarakat,” tutur Tb. Haeru.

KKP terus mendorong produksi dan margin atau keuntungan di level pembudidaya untuk ditingkatkan melalui Gerakan Pakan Ikan Mandiri (Gerpari). Pasalnya, pakan merupakan komponen penting dalam budidaya ikan dengan porsi yang cukup besar dalam permodalan. Oleh karena itu, KKP terus mendukung peningkatan produksi pakan ikan serta keberlanjutan usaha budidaya di masyarakat.

“Jika produksi bisa naik, cost produksi kita turunkan, tentu margin buat pembudidaya bisa lebih besar. Itu yang sama-sama kita inginkan,” katanya.

Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Sungai Gelam, Boyun Handoyo mengatakan beberapa sentra perikanan budidaya di Sumatera Barat berpotensi menjadi kampung budidaya ikan. Tentunya, dengan komoditas yang berbasis kearifan lokal seperti ikan mas, nila, dan beberapa komoditas lain.