Produk Buah dan Sayur Serta Pangan Indonesia Berhasil Diekspor Ke UEA

Pertanianku — Kegiatan ekspor terus berjalan lancar di tengah pandemi Covid-19. PT Saribhakti Bumi Agri dan PT Monde Mahkota Biskuit berhasil mengekspor beberapa komoditas pangan dengan nilai ekspor mencapai USD 75 ribu ke Uni Emirat Arab (UEA). Kinerja para eksportir nasional yang terus memacu tren eskpor di tengah pandemi Covid-19 ini diapresiasi oleh Menteri Perdagangan Agus Suparmanto.

ekspor
foto: pexels

“Masa pandemi Covid-19 tidak menutup peluang eskpor produk Indonesia ke UEA. Beberapa eksportir tanah air sudah berhasil menangkap peluang ini,” ujar Menteri Perdagangan Agus Suparmanto seperti dikutip dari laman kemendag.go.id.

PT Saribhakti Bumi Agri berhasil mengirim tiga ton buah dan sayur segar, seperti jambu merah, jambu kristal, buah naga, lemon kuning, semangka, ubi Murasaki, dan ubi cilembu ke UEA. Pihak importirnya adalah Elite Agro LLC, perusahaan yang ditunjuk oleh pemerintah UEA untuk mengimpor makanan dari Indonesia melalui jalur penerbangan khusus.

Loading...

Sementara, PT Monde Mahkota Biskuit berhasil mengirim 5.000 karton biskuit wafer Nissin dengan total volume sebesar 24,5 ton ke Elliter Agro LLC. Nilai ekspor yang dihasilkan dari ekspor dari kedua perusahaan tersebut mencapai USD 75 ribu.

Sebelumnya, pada 28 april 2020, pemerintah UEA mengirimkan satu unit pesawat khusus, yaitu Etihad Airways berkapasitas kargo 40 ton ke Jakarta. Pesawat tersebut digunakan untuk mengimpor bahan makanan dari Indonesia setelah sebelumnya pesawat tersebut digunakan untuk mengirim bantuan peralatan medis dari UEA untuk menangani Covid-19 di Indonesia.

Kementerian Perdagangan akan terus menjalin kerja sama yang baik dengan pemerintah UEA agar keberlanjutan ekspor dapat tetap berlangsung dengan lancar. Pendekatan tersebut bertujuan menjaga perjanjian perdagangan agar beban bea masuk komoditas ekspor Indonesia bisa dikurangi.

Baca Juga:  Teknologi Minakodal Mampu Mengefisiensikan Pupuk Hingga 70 Persen

Para importir komoditas di UEA mengaku terjadi penurunan penjualan produk, terutama untuk produk yang bukan kategori kebutuhan pokok. Hal tersebut dikarenakan adanya pembatasan pergerakan manusia yang sedang diberlakukan sejak 5 April 2020.

Namun, kebutuhan pokok seperti sayur dan pangan, permintaannya tetap tinggi sehingga hal tersebut masih menjadi peluang bagi Indonesia untuk memasok kebutuhan tersebut. Saat ini, produk yang dibutuhkan oleh UEA adalah makanan dan minuman olahan sereal, kopi instan, jus, produk perikanan segar dan beku, serta produk kesehatan.

 

 

Loading...
Loading...