Proses Ekstraksi dengan Lemak Dingin (Enfleurasi)


Pertanianku – Proses ekstraksi ini digunakan khusus untuk mengekstraksi minyak bunga-bungaan, dalam rangka mendapatkan mutu dan rendemen minyak yang tinggi. Pada umumnya bunga setelah dipetik akan tetap hidup secara fisiologis. Daun bunga terus menjalankan proses hidupnya dan tetap memproduksi minyak asiri dan minyak yang terbentuk dalam bunga akan menguap dalam waktu singkat.

Ragam Bahan dan Fungsi Minyak Asiri

Kegiatan bunga dalam memproduksi minyak akan terhenti dan mati jika kena panas, kontak, atau terendam dalam pelarut organik. Dengan demikian, pelarut hanya dapat mengekstraksi minyak yang terdapat dalam sel bunga yang terbentuk pada saat bahan tersebut kontak dengan pelarut, sedangkan minyak asiri yang terbentuk sebelumnya sebagian besar telah menguap.

Untuk itu, ekstraksi dengan menggunakan pelarut menguap menghasilkan rendemen minyak yang rendah. Untuk mendapatkan rendemen minyak yang lebih tinggi dan bermutu baik, proses fisiologi dalam bunga selama proses ekstraksi berlangsung perlu dijaga agar tetap berlangsung dalam waktu selama mungkin sehingga bunga tetap dapat memproduksi minyak asiri. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengekstraksi minyak bunga menggunakan lemak hewani atau nabati.

  1. Alat pembuat minyak

Sama halnya dengan ekstraksi menggunakan pelarut menguap, ekstraksi minyak asiri dengan metode lemak dingin memerlukan evaporator untuk memisahkan minyak asiri dari lilin dan alkohol pelarutnya. Selain itu, dibutuhkan lempeng kaca dan rak tertutup pada proses absorbsi minyak asiri dari bunga.

  1. Bahan penunjang proses pembuatan minyak

Dalam metode lemak dingin, bahan penunjang yang digunakan yaitu lemak dan alkohol. Lemak berfungsi sebagai adsorben atau penyerap minyak asiri dari bunga. Sementara alkohol digunakan untuk memisahkan minyak asiri dari lemak.

  1. Proses pembuatan minyak

Metode enfleurasi dilakukan dengan beberapa tahapan. Mulamula, pilih bunga yang masih kuncup dengan tingkat ketuaan optimum, lalu tangkai bunga dihilangkan. Selanjutnya, oleskan lemak yang akan digunakan sebagai adsorben pada lempeng kaca setebal 1—2 cm. Agar diperoleh luas bidang permukaan yang lebihbesar untuk penyerapan, lapisan lemak hendaknya diberi beberapa goresan.

Baca Juga:  Luar Biasa! Ekspor Kopi Indonesia ke Korsel Meningkat Hingga 53 Persen

Bunga yang telah dihilangkan tangkainya kemudian ditebarkan di atas lapisan lemak secara merata. Semakin lebar bidang bunga yang kontak langsung dengan lemak akan semakin baik. Selanjutnya, simpan lepengan kaca beserta lemak dan bunga dalam lemari atau rak tertutup.

Setelah 24 jam, bunga lama dapat diganti dengan bunga baru. Penggantian bunga perlu dilakukan secara hati-hati agar lemak yang terbawa sedikit mungkin. Penggantian bunga perlu dilakukan berulang-ulang sampai diperoleh minyak berkomponen kimia tinggi, yang dicirikan dengan terciumnya aroma yang kuat. Lemak yang mengandung minyak disebut pomade. Jika penggantian bunga dilakukan 30 kali, pomade yang dihasilkan dikenal dengan istilah pomade 30. Artinya, penggantian bunga telah dilakukan sebanyak 30 kali.

Pomade yang telah mengandung minyak bunga selanjutnya diangkat dari lapisan kaca dan ditampung dalam wadah. Selanjutnya, pomade dicampur dengan alkohol panas sampai larut dan diaduk agar homogen. Selanjutnya, simpan larutan pada suhu dingin agar lemak membeku dan mudah dipisahkan. Pemisahan lemak dilakukan dengan pemerasan dan penyaringan sampai larutan bebas lemak. Selanjutnya, larutan yang mengandung minyak dievaporasi pada suhu rendah sampai diperoleh absolute.

Agar absolute yang dihasilkan optimal, lemak yang digunakan untuk proses tersebut harus memenuhi syarat, yaitu tidak berbau dan tidak berwarna. Lemak yang berbau tidak dapat digunakan karena dapat mencemari bau absolute yang dihasilkan. Bau lemak dapat dihilangkan dengan proses deodorisasi, yaitu menguapkan golongan senyawa berantai pendek hasil degradasi asam lemak yang menimbulkan bau (aldehid, keton, dan asam) pada suhu 200o C dan tekanan 19 mmHg.

Lemak yang berwarna tidak dikehendaki pasar karena meninggalkan warna dalam absolute saat diuapkan dan minyakLemak mempunyai konsistensi tertentu. Konsistensi lemak  yang digunakan perlu diatur karena lemak yang terlalu keras mempunyai daya adsorbsi yang rendah. Titik cair optimal lemak adalah 36—37o C. Jika suhu terlalu rendah, daya adsorbsi lemak semakin tinggi. Namun, proses deflourasi (pengambilan bunga layu) menjadi sulit karena banyak lemak yang menempel pada bunga. Sementara jika titik cair di atas 37o C, proses deflourasi semakin mudah, tetapi daya adsorbsi lemak menurun. Adapun tahapan proses enfleurasi dapat dilihat pada Ilustrasi 6.

Baca Juga:  Langkah Mudah dan Cermat Budidaya Tanaman Kopi

 

Sumber: Buku memproduksi 15 minyak asiri berkualitas

loading...
loading...