Prospek Bisnis Ayam Goreng Krispi Masih Menjadi Tren


Pertanianku — Jika Anda pergi berlibur ke Bandung, Anda akan mendapati banyaknya gerai penjual ayam goreng krispi. Hampir di setiap jalan besar bahkan sampai ke jalan komplek perumahan banyak penjual ayam krispi. Ini menunjukkan bahan persaingan antarpelaku usaha ayam goreng favorit anak-anak tersebut pun semakin ketat.

CEO sebuah merek ayam goreng lokal Zainal Fahmi mengakui dunia bisnis ayam goreng krispi sangat ramai mulai dari pelaku besar berskala global hingga kecil. Bahkan, bisnis ini juga mulai disentuh oleh kalangan artis dan tokoh terkenal.

“Kami masih pemain baru tapi kuenya sangat besar jadi peluangnya masih sangat luas,” ujar Zainal.

Menurutnya, bisnis ayam goreng krispi masih menjanjikan terlihat dari respons positif masyarakat. Merek ayam goreng miliknya bernama Pin Chicken yang diresmikan 1 November 2018 lalu kini telah punya dua gerai. Agar bisa bersaing, produknya mengedepankan kualitas prima sehingga bisa memuaskan pelanggan.

Selain itu, kata dia, faktor harga yang terjangkau menjadi kunci utama untuk menyasar pangsa pasar menengah ke bawah. Kisaran harga di gerai ayam gorengnya mulai dari Rp7.500 hingga Rp125 ribu untuk paket lengkap. “Kami masuk ke pasar menengah ke bawah dan menyasar ke wilayah permukiman,” tuturnya.

Zainal mengatakan agar bisnis bisa tumbuh lebih cepat, Pin Chicken menggandeng waralaba lain yakni d’Besto yang telah berpengalaman lebih lama. Kerja sama ini akan saling menguntungkan bagi kedua belah pihak karena punya pangsa pasar yang berbeda.

“Bunda Eva sebagai salah satu pemilik d’Besto telah support kita sejak lama mulai dari resep dan sharing pengalaman. Kini, kami pun didukung dari sisi operasional,” tutur dia.

Tahun ini, Zainal menargetkan perusahaannya mampu membuka 60 gerai di Bandung dan Jakarta. Agar ekspansi semakin masif, pihaknya menerapkan sistem kemitraan dan waralaba.

Baca Juga:  Wajib Coba! 5 Keripik Unik dari Bagian Tubuh Hewan

Khusus untuk kemitraan, Pin Chicken membidik kalangan pekerja. Investasi yang dibutuhkan Rp120 juta hingga Rp350 juta dengan perhitungan break even point (BEP) dua tahun. “Melalui program kemitraan, kami berupaya menumbuhkan pelaku UMKM,” katanya.

Ia mengatakan investor tidak perlu capek ke lapangan karena pihaknya yang akan membantu mengelola. Bahkan, laporan keuangan bisa dilihat secara real time.