Prospek Bisnis Puyuh Menjanjikan dan Lebih Ekonomis Dibanding Ayam

Pertanianku Prospek bisnis puyuh sangat menjanjikan. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Sub 1 Cikembar Slamet Wuryadi. Peluang bisnis puyuh dikatakan menjanjikan karena belum diisi oleh korporasi.

Prospek bisnis puyuh
Foto: Pixabay

Selain itu, Slamet juga menuturkan, biaya produksi puyuh jauh lebih ekonomis dibanding biaya produksi ternak daging dan telur ayam. Dia menjelaskan bahwa produktivitas reproduksi burung puyuh sangat bagus sehingga mendorong tingkat produksi yang tinggi. Pada usia 45 hari, burung puyuh sudah mampu bereproduksi dengan tingkat produksi telur sebanyak satu butir per hari, begitu pun di hari-hari selanjutnya.

“Ternak puyuh ini adalah bisnis yang berkelanjutan, karena burung puyuhnya terus bertelur setiap hari,” kata Slamet, di Sukabumi, mengutip Republika, Rabu (13/3).

Jika dihitung secara ekonomis dan nilai gizi, tiga butir telur puyuh seharga Rp900 sama dengan nilai protein sebutir telur ayam kampung seharga Rp2.500. Artinya, lanjut Slamet, konsumen juga dapat menikmati keuntungan tersendiri dengan mengonsumsi telur puyuh dibanding telur ayam.

Sebagai perbandingan, suplai telur puyuh program Kartu Jakarta Pintar (KJP) sebanyak 21 juta butir atau sekitar Rp6,3 miliar. Sementara, jika dibandingkan dengan jumlah telur ayam sebanyak 600 ton, alokasi anggaran yang harus dikeluarkan berkisar Rp15 miliar. “Jadi lebih ekonomis di puyuh, ini peluang,” katanya.

Kendati demikian, pihaknya mengaku belum dapat menyuplai kebutuhan permintaan puyuh, baik dari kebutuhan daging maupun telurnya secara nasional. Untuk kebutuhan puyuh di wilayah Jakarta, Jawa Barat, dan Banten saja, kata dia, produksi belum mampu menyuplai secara permintaan secara keseluruhan.

Menurutnya, untuk kebutuhan tiga provinsi tersebut, suplai puyuh masih belum dapat dipenuhi di kisaran 13,5 juta butir telur puyuh per minggu. Untuk itu, pihaknya mendorong pemerintah untuk membantu pergerakan aktivitas kelompok tani dari segi akses permodalan, bantuan bibit, dan akses pakan yang terjangkau guna menggerakkan sektor ternak puyuh.

Baca Juga:  Perlukah Vaksinasi Ternak Dilakukan?

Hal itu guna menumbuhkan minat berwirausaha di kalangan milenial. Dia mengatakan, usaha ternak puyuh sangat cocok untuk kalangan milenial, terlebih masih banyak kampanye negatif tentang puyuh yang diklaim memiliki tingkat kalori yang tinggi, sekitar 3.640. Dengan hadirnya program Santripreneur dan Kelompok Tani Milenial, dia berharap ada gebrakan masif lewat informasi digital untuk menangkal kampanye negatif puyuh.

“Setelah kita teliti puyuh ini, tingkat kolesterolanya justru sangat rendah. Jauh sekali dari stigma dan kampanye negatif yang disebarkan dunia internasional, terutama oleh General Hospital Singapore,” katanya.

Loading...