Pupuk Alternatif sebagai Solusi

Pertanianku  Permasalahan pupuk yang saling berkait antara industri, ketersediaan bahan baku, sumber daya energi, kebijakan pemupukan, serta dampak terhadap lingkungan dan kesehatan, membutuhkan berbagai penyelesaian alternatif. Salah satunya adalah dengan mengembangkan jenis-jenis pupuk alternatif yang kompetitif terhadap pupuk anorganik dan ramah lingkungan. Ada beberapa alternatif yang perlu dikembangkan, yaitu pupuk organik yang terukur kesetaraannya dengan pupuk anorganik serta pupuk hayati, baik dari mikroba maupun tanaman.

Mengenal pupuk lebih jauh

  1. Pupuk organik

Pupuk organik yaitu pupuk yang terbuat dari bahan baku yang sebagian besar atau keseluruhan berasal dari bahan-bahan organik, baik tumbuhan maupun hewan yang telah melalui proses rekayasa; berbentuk padat atau cair; yang digunakan untuk menyuplai (memberikan) bahan organik; serta berfungsi untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah.

Loading...

Kelebihan pupuk organik dibandingkan dengan pupuk anorganik antara lain dapat meningkatkan produksi dan sesuai dengan tanah. Selain itu, pupuk organik juga dapat menggemburkan tanah, memacu pertumbuhan mikroorganisme dalam tanah, serta membantu transportasi unsur hara tanah ke dalam akar tanaman. Namun demikian, kelemahan pupuk organik adalah takaran volume yang dibutuhkan lebih banyak dari pupuk anorganik. Misalnya pupuk  organik hasil pengomposan bahan hijauan atau pupuk kandang dibutuhkan 5—10 ton untuk satu hektar lahan, sedangkan pupuk anorganik hanya 250—450 kg/ha. Demikian pula dalam proses pembuatannya. Pembuatan pupuk organik membutuhkan waktu yangcukup lama. Untuk satu tahapan proses, minimal membutuhkan waktu 10—30 hari.

Selain masalah aplikasi dan pembuatannya, pupuk organik juga terkendala masalah kandungan. Pupuk organik tidak dapat distandarkan kandungannya karena bahan bakunya berasal dari berbagai tempat dengan jenis dan proses yang beragam. Dengan demikian, diperlukan inovasi produksi pupuk organik dalam proses pembuatan dan formulasinya agar kompetitif terhadap pupuk anorganik. Jika pupuk organik akan digunakan sebagai pengganti (substitusi) pupuk anorganik, sejak saat ini hingga tahun 2025 kebutuhannya dapat mencapai 18,86 juta ton. Jumlah yang tidak sedikit. Tentunya, menjadi peluang bagi siapa pun yang ingin mengusahakannya.

  1. Pupuk hayati
Baca Juga:  Indonesian Grocery Project, E-Commerce untuk Mendorong Ekspor Pertanian

Pupuk hayati atau sering disebutkan biofertilizer yaitu pupuk yang dibuat dari mikroba yang mempunyai kemampuan untuk menyediakan unsur hara bagi tanaman, misalnya kebutuhan nitrogen, fosfat, Mg, Zn, dan Cu. Mikroba penambat nitrogen Rhizobium sp. hidup bekerja sama dengan tanaman dengan melibatkan aktivitas biokimia yang kompleks sehingga mampu menambat nitrogen dari udara. Nitrogen yang diperoleh digunakan oleh tanaman untuk pertumbuhan. Penerapan pupuk hayati Rhizobium pada budi daya tanaman kacang-kacangan dapat meningkatkan hasil rata-rata 13—50%. Pada jenis-jenis mikroba yang non-simbiotik umumnya mengeluarkan senyawa aktif tertentu (enzim) yang mampu meluruhkan unsur yang terikat dengan tanah sehinga dapat diserap oleh tanaman.

Azotobacter chroococcum adalah jenis bakteri yang mampu meluruhkan atau menyediakan fosfat dan nitrogen bagi tanaman di dalam tanah. Hasil percobaan yang dilakukan oleh Shende, S. T.,(1979) pada tanaman sorgum menujukkan bahwa pemberian Azotobacter dapat meningkatkan hasil sebesar 9,3—38%; pada tanaman jagung sebesar 36,5—71,7%; dan pada tanaman kapas meningkatkan hasil sebesar 6,7%—20,6%. Hasil yang optimal ini sangat tergantung pada jenis tanah dan lokasinya.

Jenis mikroba golongan jamur seperti Mycorhiza adalah mikroba peluruh fosfat. Penelitian yang dilakukan oleh Yudhi dkk. (2005) terhadap pemanfaatan Mycorhiza pada tanaman kedelai varitas Wilis dapat meningkatkan jumlah polong 36%, pada Pangrango 39%, dan Cenerg 28% lebih tinggi jika dibandingkan dengan menggunakan pupuk anorganik (rekomendasi). Beberapa contoh yang telah dijelaskan merupakan sedikit gambaran potensi pupuk alternatif yang perlu mendapatkan perhatian dalam pengembangannya. Walaupun sudah banyak penelitian yang dilakukan dan siap untuk ditransformasikan pada skala produksi, ternyata tidak mudah untuk masuk dalam sistem perpupukan nasional. Hal ini tentu membutuhkan perhatian berbagai pihak, terutama pengambil kebijakan di pemerintahan.

Baca Juga:  Jurus Jitu Mengusir Hama Tikus Padi di Lahan Rawa

 

Sumber: Buku petunjuk Praktis Penggunaan Pupuk Organik

Loading...
Loading...