Pupuk Hayati untuk Dongkrak Mutu dan Produktivitas Kubis

Pertanianku — Ada banyak faktor yang dapat memengaruhi hasil budidaya. Itu sebabnya hasil budidaya yang didapatkan oleh setiap petani akan berbeda-beda. Salah satu hal yang memengaruhi hasil budidaya kubis adalah penggunaan pupuk hayati. Ternyata, pemberian pupuk hayati berhasil membuat waktu panen menjadi lebih cepat dan bobot kubis meningkat 50 persen.

pupuk hayati
foto: Trubus

Pupuk hayati adalah sumber hara yang berasal dari organisme hidup. Mikroorganisme yang terdapat di dalamnya menyediakan sumber hara yang dibutuhkan oleh tanaman, kemudian merangsang sistem perakaran agar berkembang sempurna dan memperpanjang umur akar. Menurut pengalaman para petani, pupuk hayati sebaiknya digunakan sejak persemaian.

Bibit disemai dengan media tanam yang terdiri atas 15 kg pupuk kandang dan 0,5 kg pupuk SP36. Selanjutnya, pupuk dicampur 200 ml pupuk hayati yang dilarutkan dengan 30 liter air. Pupuk tersebut diberikan dengan cara dikocor ke media persemaian.

Sambil menunggu benih tumbuh di persemaian, lahan yang sudah diolah disemprotkan 200 ml pupuk hayati yang diencerkan ke dalam 60 liter air. Setelah 28–30 hari, bibit sudah bisa ditanam ke lahan. Akar bibit sebaiknya dicelupkan terlebih dahulu ke dalam larutan Trichoderma selama 1 menit untuk merangsang akar.

Selanjutnya, kocorkan 30 liter larutan pupuk hayati secara merata ke lahan. Pemupukan berikutnya dilakukan setiap 10 hari sekali dengan dosis yang sama. Menjelang 20 hari panen, Anda dapat mengganti pupuk dengan pupuk untuk pertumbuhan generatif agar tanaman kubis tumbuh maksimal. Pupuk yang digunakan adalah 0,5 liter pupuk hayati yang dicampur 160 liter air. Takaran pupuk tersebut untuk 2–3 kali pemupukan dengan interval pemupukan setiap 5 atau 6 hari.

Nutrisi yang diberikan berfungsi menggemburkan tanah, menstabilkan pH, dan merangsang perakaran. Selain itu, nutrisi di dalam pupuk hayati bermanfaat untuk memperbaiki sifat fisika, kimia, dan biologi tanah. Oleh karena itu, tanah yang semula keras bisa berubah menjadi gembur. Jumlah nutrisi di tanah tersebut juga semakin lengkap sehingga tanaman tidak mengalami kekurangan nutrisi untuk tumbuh.

Baca Juga:  Tanaman Jagung Juga Bisa Sakit Meski Tidak Diserang Patogen