Pupuk Kotoran Burung Puyuh

Pertanianku— Kotoran atau hasil sampingan ternak burung puyuh masih bisa digunakan kembali sebagai bahan pupuk. Kotoran akan digunakan sebagai bahan baku untuk pupuk kandang. Ada dua jenis pupuk yang dapat diolah dari kotoran burung puyuh, yaitu pupuk kandang dan pupuk bokashi.

kotoran burung puyuh
foto: pixabay

Pupuk kandang

Pupuk kandang lebih bagus terbuat dari kotoran yang berasal dari kandang baterai dan masih segar. Kotoran dari kandang litter rata-rata sudah tercampur dengan sekam dalam waktu yang relatif lama sehingga ada kemungkinan kotoran tersebut sudah terfermentasi.

Pembuatan pupuk kandang memerlukan starter (EM4 atau Starbio) untuk mempercepat fermentasi. Pupuk dibuat dengan cara menimbun kotoran yang masih bercampur dengan sisa pakan atau sekam padi. Setelah itu, pupuk dipercikkan dengan larutan starter 0,1 persen (1 cc starter dalam 1 liter air) secara merata. Selanjutnya, peram pupuk selama 2—3 bulan.

Setelah beberapa hari, suhu bahan-bahan akan meningkat menjadi 70°C. Anda perlu melakukan pengadukan atau pembalikan setelah dua minggu diperam untuk menurunkan suhu menjadi 40°C.

Selanjutnya, setiap dua minggu sekali bahan pupuk harus dibalik hingga pemeraman selesai (2—3 bulan). Setelah itu, pupuk bisa dikemas untuk dipasarkan.

Pupuk bokashi cair

Pupuk bokashi bisa dibuat dengan starter atau tanpa starter. Pupuk yang dibuat dengan starter harus menggunakan bak atau drum yang berdaya tampung 250 liter air. Isi bak dengan air sebanyak 200 liter. Buat larutan gula 250 gram dalam 1 liter air, kemudian campurkan dengan 1 liter EM4.

Masukkan larutan tersebut ke bak/drum. Setelah itu, masukkan kotoran puyuh sebanyak 30 kg ke bak/drum. Lakukan pengadukan hingga bahan-bahan tercampur merata. Tutup rapat wadah selama empat hari, lalu kembali tutup dengan rapat setelah selesai pengadukan. Setelah 4 hari proses, pupuk cair sudah bisa digunakan.

Baca Juga:  Kelebihan dan Kekurangan Kandang Postal untuk Ayam Elba

Pengangkutan terbuka dapat dilakukan dengan memasukkan ke drum atau tong. Proses pengangkutan harus dilakukan secara hati-hati agar pupuk tidak tumpah. Pengangkutan juga bisa dilakukan secara tertutup dengan menggunakan kemasan plastik atau botol.