Ribuan Hektare Lahan Teh di Jabar Beralih Fungsi


Pertanianku — Ribuan hektare lahan teh di Jabar beralih fungsi sehingga produksinya pun terus merosot. Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barar, Arief Santosa mengatakan, hampir 2.000 hektare lahan teh yang terkonvensi menjadi lahan nonteh selama lima tahun ini.

lahan teh di Jabar beralih fungsi
Foto: Pixabay

Lahan perkebunan teh tersebut di antaranya ada yang beralih ke kopi atau menjadi lahan hortikultura lainnya. Penyebab lain lahan teh berkurang, yaitu karena produksi teh pucuk sulit bergerak naik.

“Biaya pemiliharaannya juga mahal sehingga mereka tergiur menanam komoditas lain yang lebih menjanjikan,” ujar Arief.

Ia menuturkan, pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan lahan perkebunan teh di Jabar. Upaya tersebut di antaranya dengan program gerakan teh nasional yang di dalamnya ada program rehab dan intens.

Arief melanjutkan, melalui program rehab dinasnya membantu mengisi lahan teh yang kosong. Misalnya, petani teh rakyat yang populasi lahannya 5—6 ribu orang akan diisi menjadi padat sehingga saat panen penghasilannya naik.

“Kami pun memberi bantuan pupuk pada petani agar produksinya meningkat dari 0,75 menjadi sampai 1 ton,” tutur Arief.

Melalui bantuan itu, bahkan ada petani teh yang poduksinya menjadi lima ton per hektare, melebihi produktivitas PTPN yang hanya dua ton. Sementara itu, terkait tingkat konsumsi teh, Arief mengakui bahwa saat ini memang masih rendah bila dibandingkan negara lain, hanya sekitar 0,38 kg per kapita per tahun. Sementara, tingkat konsumsi dunia sudah mencapai 1 kg.

Rendahnya konsumsi teh di Indonesia, menurut Arief terjadi karena ada sebagian orang menilai minum teh tak baik untuk kesehatan. Kondisi ini ada karena kesalahpahaman tentang khasiat teh.

Pada zaman Belanda, teh yang diberikan ke pribumi hanya teh yang abal-abal atau berkualitas rendah. Sementara, kualitas teh yang bagus diberikan ke penjajah. Oleh karena itu, orang tua zaman dahulu melarang anaknya meminum teh karena tak baik untuk kesehatan. Penyebab lainnya, yaitu teh masih minim dikonsumsi oleh masyarakat di Indonesia karena subtitusi teh ada air putih dan minuman instan.

Baca Juga:  Petani: Impor Jagung untuk Kepentingan Sesaat