Rumput Laut Bisa Jadi Solusi Limbah Plastik dan Perubahan Iklim

    Pertanianku — Saat ini rumput laut telah terbukti mampu menjadi solusi permasalahan global seperti limbah plastik dan perubahan iklim. Saat ini Indonesia memiliki luas wilayah habitat komoditas ini yang mencapai 1,2 juta hektare atau terbesar di dunia.

    rumput laut
    foto: http://noboilebura.florestimurkab.go.id/

    “Kemelimpahan sumber daya hayati rumput laut ini tentunya merupakan anugerah bagi bangsa Indonesia yang dapat didayagunakan sebagai penggerak ekonomi nasional, penyedia lapangan kerja, penghasil devisa serta menjadi sumber pangan dan gizi nasional,” papar Artati Widiarti, Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) seperti dikutip dari laman kkp.go.id.

    Artati mengungkapkan inovasi menjadi kunci penting dalam produk turunan komoditas ini. Misalnya, pengolahan rumput laut menjadi bioplastik yang dapat menggantikan peran kemasan plastik.

    Penelitian mutakhir yang dipublikasikan di PLoS One Journal pada Maret lalu menyebutkan bahwa rumput laut jenis Asparagopsis taxiformis dapat digunakan sebagai pakan ternak ruminansia seperti sapi dan mengurangi emisi gas metana.

    “Ketika dunia menempatkan climate change sebagai isu utama, pelaku usaha bisa mem-branding rumput laut sebagai tanaman yang mampu menyerap CO2,” ujar Artati.

    Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pemasaran Ditjen PDSPKP, Machmud menjelaskan saat ini pemanfaatan rumput laut untuk konsumsi manusia mencapai 77 persen dari keseluruhan pangsa pasar global. Jumlah tersebut diproyeksikan akan terus meningkat di masa yang akan datang karena adanya perubahan kebiasaan hidup menjadi lebih sehat dan meningkatnya populasi penduduk.

    “Peningkatan permintaan terjadi karena meningkatnya permintaan rumput laut untuk industri pangan, pakan, obat-obatan, dan kosmetik,” tutur Machmud.

    Tak hanya pada industri makanan, saat ini rumput laut sudah mulai dikembangkan menjadi bahan baku untuk pembuatan cangkang kapsul dalam bidang farmasi dan jenis Sargassum bisa digunakan sebagai pakan alami hewan yang kaya nutrisi.

    Baca Juga:  Mengendalikan Penyakit Terung Layu Cendawan Tanpa Pestisida Kimia

    Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyebutkan pentingnya penerapan ekonomi biru dengan memanfaatkan sumber daya kemaritiman secara berkelanjutan. Ekonomi biru ini perlu didukung dengan riset yang baik agar tercipta inovasi yang baik bagi kemaslahatan umat manusia.