Rumput Laut Dijadikan Bahan Bakar, Bagaimana Bisa?


Pertanianku – Pemanfaatan bahan bakar nabati yang saat ini sedang dikembangkan adalah bioetanol dari rumput laut. Rumput laut merupakan kelompok tumbuhan yang berklorofil dan mengandung bahan organik seperti polisakarida, hormon, vitamin, mineral dan juga senyawa bioaktif.

Foto: pixabay

Kebutuhan energi semakin hari semakin meningkat, hal ini lantas membuat kebutuhan energi alternatif pengganti energi fosil menjadi tak terhindarkan dan mulai dikembangkan lebih lanjut. Solusinya adalah menggunakan bahan bakar nabati (biofuel) yang ramah lingkungan dan dapat diperbaharui dengan mudah.

Selama ini pemanfaatan rumput laut sebagai komoditas perdagangan atau bahan baku industri banyak di industri makanan, kosmetik, dan farmasi. Namun, saat ini rumput laut juga dikembangkan menjadi bioetanol.

Rumput laut dipandang sebagai bioenergi pengganti BBM yang dipercaya jauh lebih ekonomis ketimbang tanaman jarak, minyak kelapa sawit, dan ethanol dari jagung.

Caulerpa serrulata dan Gracilaria verrucosa merupakan spesies rumput laut yang dapat menghasilkan bioetanol. Kedua jenis tersebut memiliki kandungan selulosa yang dapat dihidrolisis menjadi glukosa yang selanjutnya dapat diubah menjadi bioetanol.

Proses pembuatannya terdiri atas beberapa tahap berikut. Pertama, persiapan bahan baku yang berupa hidrolisa pati menjadi glukosa. Tahap kedua, yaitu proses fermentasi, mengubah glukosa menjadi etanol dan CO².

Selanjutnya, lakukan pemisahan antara padatan dan cairan untuk menghindari terjadinya penyumbatan selama proses berikutnya, yaitu proses distilasi.

Tahap ketiga, yakni pemurnian hasil dengan cara distilasi. Distilasi dilakukan untuk memisahkan etanol dengan air. Titik didih etanol murni adalah 78°C, sedangkan air adalah 100°C untuk kondisi standar.

Dengan memanaskan larutan pada suhu rentang 78—100° C, akan mengakibatkan sebagian besar etanol menguap, dan melalui unit kondensasi akan dihasilkan etanol dengan konsentrasi 95% volume.

Baca Juga:  Yuk, Kenalan dengan PRISM, Sistem Informasi Padi Berbasis Satelit

Indonesia memiliki potensi yang besar dalam mengembangkan energi berbahan bakar rumput laut. Kegiatan budidaya rumput laut sebesar 1.110.900 ha, tetapi pemanfaatan lahannya baru seluas 222.180 ha atau sekitar 20% dari luas areal potensial.

Selain keuntungan dari luas areal, proses pembudidayaan rumput laut juga relatif singkat. Hanya memerlukan sekitar 45 hari untuk bisa dipanen.

Produktivitas rumput laut juga cukup tinggi dibandingkan dengan menggunakan tebu, singkong, ubi jalar, dan jagung sebagai bahan baku etanol.

Setiap 1 ha lahan rumput laut dapat menghasilkan 58.700 liter (30% minyak) per tahunnya. Jumlah tersebut sangat besar dibanding jagung yang menghasilkan 172 liter per tahun dan kelapa sawit yang menghasilkan 5.900 liter per tahun.

Pengaruh industri bioetanol dari rumput laut juga meringankan dampak pemanasan global karena etanol rumput laut menyerap karbon dari udara tujuh kali lebih besar dibanding bioetanol dari kayu.

Bioetanol dari rumput laut telah terbukti lebih murah biaya dan menguntungkan dibanding dari tebu dan kayu karena pertumbuhannya lebih cepat sehingga memungkinkan panen sampai enam kali dalam setahun.

loading...
loading...