Sapi Pogasi, Sapi Unggulan Balitbangtan

PertaniankuSapi pogasi atau peranakan ongole grati hasil seleksi merupakan sapi unggulan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan). Sapi tersebut merupakan hasil seleksi yang sudah dilakukan sejak 2002, mulai dari generasi satu hingga generasi sekarang. Proses seleksi sapi pogasi dilakukan di Loka Penelitian Sapi Potong (Lolit Sapi).

sapi pogasi
foto : http://lolitsapi.litbang.pertanian.go.id/

Dilansir dari laman litbang.pertanian.go.id, hasil penelitian tersebut membuahkan hasil berupa sapi unggulan yang baik berdasarkan segi tampilan fisik, kualitas karkas, reproduksi, dan daya tahan.

Sapi pogasi merupakan sapi potong lokal yang tahan terhadap iklim Indonesia dan memiliki kemampuan bertahan dengan kualitas pakan yang rendah sehingga sapi bisa diberikan pakan yang berbahan baku hasil sampingan pertanian. Dengan begitu, sapi dapat diternakkan di daerah marjinal dan terintegrasi dengan usaha pertanian.

Warna tubuh sapi pogasi didominasi warna putih dan sebagian lain cenderung berwarna kekuningan, tanduk tidak tumbuh panjang lebih dari 4 cm, muka berbentuk segitiga bulat dengan posisi telinga tegak lateral, serta gumba/kelasa/punuk tumbuh ke atas dan tidak rebah ke belakang.

Perbanyakan populasi sapi pogasi masih memerlukan sentuhan teknologi. Teknologi perbanyakan yang dapat digunakan ialah MOET (Multiple Ovulation and Embrio Transfer). Teknologi tersebut tercipta dari penelitan yang dilakukan antara Lolitsapi dengan LIPI dan PRN. Penelitian tersebut meneliti multi ovulasi dan dilanjutkan dengan transfer embrio.

Program MOET dapat dilakukan secara bertahap dengan pengaturan hormonal kepada sapi donor dan resipien. Tahap selanjutnya adalah panen embrio dan transfer embrio.

Saat ini sudah ada 16 embrio yang berhasil dipanen dari tiga pendonor yang diberikan perlakuan hormon. Embrio tersebut diperoleh dari hasil evaluasi, kemudian ditentukan grade dan tahap perkembangannya.

Selanjutnya, empat embrio sudah ditransfer keempat resipien yang memiliki corpus luteum (CL) yang berkualitas bagus, dan sembilan di antaranya sedang dibekukan.

Baca Juga:  Kementan Mulai Siaga dengan Penyakit Hewan LSD