Mengenal Sejarah Lele di Dunia


Pertanianku – Siapa tak kenal lele? Di tanah air, lele merupakan salah satu jenis ikan palingbanyak dikonsumsi. Salah satu menu terpopuler  di kalangan masyarakat adalah pecel lele yangbanyak dijajakan di warung tenda pinggir jalan. Namun, di Eropa  Tengah, catfish–sebutan lele dalam Bahasa Inggris–adalah menu mewah. Lele hanya disajikan saat ada pesta atau perayaan tertentu.

Lele Di Dunia

Kebiasaan itu bahkan dilestarikan sampai ke tanah jajahan Bangsa Eropa, yaitu Amerika. Di Negeri Paman Sam khususnya Amerika Serikat bagian Selatan, catfish menjadi menu yang sangat populer. Namun, catfish yangdikenal masyarakat Eropadan Amerika itu berbeda dengan lele yang biasa  kita santap. Mereka mengenal channel catfishyang memiliki nama ilmiahIctalurus punctatus serta I. furcatus yang dikenal sebagai blue catfish.

Sementara masyarakat Indonesia akrab dengan lele spesies Clarias spp. Harap mafhum, sebutan catfish yang biasa diartikan lele dalam Bahasa Indonesia, bukan merujuk pada satu spesies, melainkan pada beragam jenis ikan ordo Siluriformes. Ciri khasnya, pada bagian moncong terdapat indra peraba menyerupai kumis yang disebut barbell atau olehmasyarakat Jawa dikenal sebagai “sungut”. Karena adanya kumis yang menyerupai kumis kucing itulah lele mendapat julukan catfish.

Jenis lele sangat beragam mulai dari lele raksasa Pangasianodon gigas asal Sungai Mekong, Vietnam, yang mencapaipanjang 3 m dan bobot300 kg hingga lele terkecil dari keluarga Aspredinidae dan Trichomycteridae yang panjang tubuhnya hanya sekitar 1 cm saat dewasa.

Masyarakat Thailand Utara juga pernahmenangkap lele mekong raksasa seberat 293 kg pada Mei 2005. Khusus lele Clarias spp. yang dikenal sebagai ikan konsumsi di tanah air, bangsa barat menyebutnya walking catfish lantaran ikan sepanjang 30 cm itu memiliki kemampuan ‘berjalan’ di darat dengan bantuan siripnya. Sementara nama ilmiah genusnya diambil dari Bahasa Yunani chlaros yang berarti lincah.

Kerabat lele lain yang juga dikembangkan sebagai ikan konsumsi di tanah air, yaitu patin (Pangasius spp). Bangsa keli—sebutan lele di Malaysia—juga sering dijadikan sebagai ikan hias akuarium. Salah satu jenis paling terkenal, yaitu Corydoras. Jenis lele hias lain yang cukup populer yaitu pleco , lele banjo asal Amerika Selatan, serta lele bersungut panjang atau lele gulio (Mystus gulio) asal Asia Selatan.

Bangsa lele hidup di perairan darat maupun pantai dan tersebar luas di semua benua kecualiAntartika. Namun, daerahtropis di Amerika Selatan, Afrika, serta Asia memiliki keragaman jenis lele terbesar. Di Indonesia, misalnya, terdapat setidaknya 6 jenis lele. Di antara keenam jenis itu, C. batrachus yang paling banyak dibudidayakanpeternak. Jenis C. batrachus hidup di Asia Tenggara hingga India bagian Timur, Sri Lanka, Birma, serta Bangladesh. Sementara jenis C. gariepinus ditemukan di danau, rawa, dan sungaisungaidi Afrika serta Timur Tengah.

Sebagian besar jenis plamond—sebutan lele di Thailand—hidup di air tawar terutama di perairan dangkal yang mengalirmeski sebagian dapat ditemukan di air asin. Secara alami, lele merupakan hewan omnivora pemakan ikan, moluska, cacing, bangsa udang, serta ganggang dan biasa mencari pakan di bagian bawah air. Goonch, salah satu jenis lele raksasa yang ditemukan di Sungai Kali dan Ramgangga, India diduga dapat memangsa manusia, khususnya jenazah yang dibakar dan dibuang ke sungai setelah upacara keagamaan. Namun, ada juga lele yang hidup sebagai parasit dan menghisap darah hewan lain. Candiru vandellia cirrhosa asal Sungai Amazon, misalnya, dikenal sebagai parasit yang hidup pada insang ikan lain dan bahkan dapat memasuki uretra alias saluran kencing manusia. Lele mungil itu tertarik pada bau urea atau amonia yang dapat dijumpai pada insang ikan maupun saluran kencing manusia. Candiru dapat mencapai panjang 5—17 cm, tetapi bertubuh transparan sehingga sulit terlihat.

 

Sumber: Buku  Agriflo Lele

 

loading...
loading...