Sekilas Tentang Baby Fish


Pertanianku – Salah satu komoditas hasil budidaya perikanan yang cukup berkembang dan pasarnya masih terbuka adalah anakan ikan atau sering disebut ikan balita/baby fish. Baby fish sebetulnya adalah ikan kecil (benih ikan) yang berukuran 5—7 cm, mempunyai rasa gurih dan tekstur yang renyah jika digoreng, serta mengandung protein dan kalsium yang tinggi. Baby fish merupakan komoditas perikanan yang baru berkembang selama 10 tahun terakhir. Ikan tersebut sengaja dibudidayakan dan dipanen ketika masih berukuran kecil, yaitu tidak lebih dari 10 cm atau dalam 1 kg terdapat lebih dari 200 ekor ikan.

Sekilas Tentang Baby Fish

Untuk mencapai ukuran tersebut petani tidak memerlukan waktu lama, cukup 30—45 (200—250 g) hari sudah bisa dipanen. Sementara itu, untuk nila ukuran konsumsi normalnya dipanen pada usia 90 hari atau tiga bulan. Pembesaran ikan dengan cara seperti ini tidak diperlukan pakan dalam jumlah banyak. Pakan merupakan komponen biaya yan paling besar dalam budidaya perikanan pada umumnya.

Jika digoreng, baby fish memiliki rasa yang sangat gurih dan tulangnya lunak sehingga dapat dimakan seluruhnya serta menjadi sumber kalsium. Bagi konsumen budidaya baby fish lebih menguntungkan dibandingkan dengan ikan ukuran besar karena ikan ini bisa dijual dengan harga Rp17.500/kg di tingkat petani. Jika sebelumnya ikan balita umumnya identik dengan ikan mas, kini berbagai ikan air tawar seperti nila, nilem, mujair, lele, hingga gurami mulai banyak dipanen pada ukuran kecil untuk dipasarkan, baik dalam bentuk ikan segar maupun sudah diolah (digoreng) sebagai camilan ikan krispi.

 

Sumber: Buku Penanganan dan Pengolahan Baby Fish Nila

Baca Juga:  Mendag Kritik Masyarakat Indonesia yang Konsumsi Ikan Olahan Impor
loading...
loading...