Sentra Garam di Probolinggo Kehabisan Stok Akibat Permintaan Meningkat


Pertanianku – Salah satu daerah yang menjadi sentra produksi garam, yakni Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, baru-baru ini mengalami keterbatasan stok sejak sebulan terakhir ini. Hal ini terjadi akibat kelangkaan garam yang terjadi di beberapa daerah di Jawa Timur.

Kelompok tani garam di Desa Kalibuntu ini menjadi sentral produksi garam. Beberapa daerah di Jawa Timur seperti Ponorogo, Jember, Banyuwangi, Lumajang Tuban, dan Probolinggo sendiri, mengambil garam di situ. Akibat keterbatasan stok tersebut menjadikan kelompok tani tersebut tidak dapat memproduksi garam seperti biasanya.

Para petani garam Kalibuntu hanya bisa memenuhi pesanan garam sesuai hasil panen yang ada. Dan, kelangkaan garam saat ini disebabkan faktor cuaca yang tak mendukung. Saat ini, harga garam di tingkat petani mencapai Rp3.200 per kilogram.

Ketua kelompok tani garam Desa Kalibuntu, Suparyono mengatakan, keterbatasan stok alias kelangkaan garam di sejumah daerah di Jawa Timur karena banyaknya pesanan garam dari beberapa daerah. Namun, pihaknya sendiri tidak bisa memenuhi seluruh permintaan garam tersebut. Mengingat, cuaca beberapa waktu terakhir tidak mendukung produksi garam.

“Harga garam memang sekarang tinggi. Yang awalnya naik jadi Rp2.500, sekarang harga garam sampai Rp3.200. Bahkan, di daerah lain ada yang sampai harga Rp4.000. Stok di sini sangat terbatas, karena adanya cuaca yang tidak mendukung. Jadi saat ini kami tidak bisa memenuhi permintaan itu,” kata Suparyono, seperti melansir Detik (25/7).

Lebih lanjut Suparyono mengungkapkan, untuk sedikit menutupi banyaknya permintaan dari luar daerah, pihaknya menggunakan sistem tambak geomembran. Hasilnya, lumayan bagus dan bisa cepat panen. Ukuran satu petaknya 12 × 30 meter dan 12 × 50 meter.

Baca Juga:  Banyuwangi Siapkan Bantuan untuk Korban Erupsi Gunung Agung

“Dari lima petak itu untuk saat ini sekali panen bisa menghasilkan 3—4 ton. Biasanya, kelompoknya bisa menghasilkan 7—9 ton sekali panen. Menggunakan geomembran biasanya panen saat usia 7 hari, kadang 5 hari sudah dipanen. Karena pesanan dari luar daerah banyak,” tambahnya.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Probolinggo, Deddy Isfandi, membenarkan, bahwa kelangkaan produksi garam memang terjadi utamanya di Kabupaten Probolinggo dan sekitarnya. Dan, itu akibat pengaruh cuaca buruk yang melanda sejak tahun lalu sehingga produksi garam menjadi terganggu.

“Hasil panen garam di tahun kemarin rendah. Akibatnya, stok garam tahun kemarin tidak sampai tahun ini. Musim tahun ini cuaca juga lebih buruk, sehingga produksi garam terbatas,” ungkapnya.

loading...
loading...