Singkong Mengandung Racun Sianida, Benarkah?

0

Pertanianku – Sudah sebulan ini media di Indonesia dipenuhi oleh berita mengenai Wayan Mirna Salihin (27) yang tewas diracun dengan sianida. Dengan gencarnya pemberitaan yang ada, sontak racun sianida ini menjadi terkenal. Taukah Anda bahwa sebenarnya kandungan sianida itu terdapat di dalam singkong?

singkong

Faktanya adalah memang singkong mengandung sianida dalam bentuk senyawa glikosida sianogenik yang dinamakan linamarin. Linamarin ini mudah bereaksi dengan lemak. Peningkatan suhu bahkan bisa membuat reaksi yang terjadi semakin cepat.  Reaksi ini akan menghasilakn protein dengan hidrogen-sianida (HCN) yang dikenal sebagai racun yang dikandung singkong.

Lalu, apa saja gejala yang ditumbulkan ketika mengalami keracunan singkong karena kandungan HCN yang ada di dalamnya? Berikut ini gejala yang ditimbulkan.

  1. Terasa mual, bahkan bisa menyebabkan muntah dan diare.
  2. Sesak napas.
  3. Terjadi sianosis, yaitu warna kulit dan membran mukosa kebiruan atau pucat karena kandungan oksigen yang rendah dalam darah.
  4. Terasa pusing, lemah, kesadaran menurun dari apatis (kehilangan motivasi, emosi, dan antusiasme) sampai koma.
  5. Shock (renjatan), yaitu suatu keadaan yang ditandai dengan ketidakmampuan tubuh untuk menyediakan oksigen yang cukup.

Masuknya racun sianida ke dalam tubuh menyebabkan asfiksia (keadan tidak bisa bernapas secara teratur). Racun sianida ini akan menyebabkan gangguan pegangkutan oksigen (oksidasi O2) ke jaringan. Hal ini terjadi karena racun sianida mengikat enzim sitokrom oksidasi. Dengan adanya ikatan ini, O2 yang dibutuhkan jaringan tidak akan tercukupi sehingga organ yang sangat sensitif dengan kekurangan oksigen, terutama otak, akan sangat menderita. Pada akhirnya, bisa menyebabkan kerusakan organ.

“Jika sianida yang masuk ke dalam tubuh masih dalam jumlah yang kecil maka sianida akan diubah menjadi tiosianat yang lebih aman dan diekskresikan dari tubuh,” jelas Prof. Dr. dr. Tjandra Yoga Aditama, SpP(K), DTM&H, MARS, DTCE, mantan pejabat Kementerian Kesehatan yang kini bekerja untuk World Health Organization (WHO) seperti disampaikan kepada health.detik.com.

Namun demikian, “Keracunan sianida berakibat buruk pada sistem kardiovaskuler, termasuk peningkatan resistensi vaskuler dan tekanan darah di dalam otak, sistem pernapasan dan sistem susunan saraf pusat. Sistem endokrin biasanya terganggu pada keracunan kronik sianida,” tambah beliau seperti dikutip dari wowkeren.com.

Dengan ancaman yang cukup membahayakan itu, bagaimana kita bisa tetap mengonsumsi singkong dengan aman dan tidak menyebabkan keracunan? Perlu diketahui bahwa tidak semua singkong yang ada mengandung kadar racun sianida yang tinggi. Kita bisa membedakan mana singkong yang mengandung kadar racun sianida yang tinggi ataupun rendah. Bagi warga Gunungkidul, Yogyakarta, membedakan singkong yang mengandung racun sianida yang rendah ataupun tinggi merupakan hal yang tidak terlalu sulit. Singkong yang dengan kandungan racun sianida yang tinggi biasanya memiliki tangkai daun yang berwarna sangat merah. Jika dikupas, umbi singkongnya pun berwarna merah bukan putih. Dengan pengetahuan ini, warga setempat biasa menjadikan singkong sebagai makanan pokok. Bahkan, warga pun menanam singkong di pekarangan rumah mereka.

Selain dari tampilan luar, singkong yang beracun jika dimakan akan terasa pahit, sedangkan singkong yang tidak beracun jika dimakan akan terasa manis jika dimakan dalam keadaan segar. Namun, memang ada beberapa singkong yang jika dimakan akan terasa manis pada awalnya. Lalu, tak berapa lama akan terasa pahit di lidah. Jika terjadi hal seperti ini, segera berhenti memakannya, tetapi tidak perlu panik karena hal ini tidak akan membuat sakit atupun mati. Untuk mengatasinya, minum air putih secukupnya.

Pengolahan singkong sebelum dikonsumsi bisa membuat kadar sianida yang dikandung bisa berkurang. Sebelum dimasak, sebaiknya singkong direndam dalam air dengan jangka waktu tertentu. Proses perandaman ini bisa mengurangi kadar racun sianida yang ada di dalam singkong. Hal ini karena HCN merupakan asam yang larut di dalam air.

Nah, dengan pengetahuan yang cukup dan pengolahan yang tepat, singkong tetap bisa kita nikmati. Tidak perlu khawatir.

loading...
loading...